لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan
(kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman[1].
(Yusuf 111)
Ayat dalam surat Yusuf diatas
memberi beberapa petunjuk yang agung bagi umat manusia, pertama : Kisah para
nabi dengan kaumnya; bagaimana orang yang beriman diselamatkan dan celakanya
orang yang kafir terdapat ibroh dan pelajaran bagi orang yang berakal[2],
karena yang lebih terpenting dalam sejarah bukan hanya transmisi cerita dari
satu pihak ke pihak yang lain akan tetapi makna yang terkandung dan pelajaran
penting yang harus dicamkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-sehari. Ayat
yang sejenis ini; yang berkaitan dengan perintah kepada manusia untuk
menggunakan segala potensi yang ada pada dirinya untuk berpikir, menelaah dan
mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekelilingnya sangat banyak disebutkan dalam Al-Qur’an.
Kedua : Urgensi otentifikasi
berita, dalam kalimat :
مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ
“Al-Quran itu bukanlah cerita yang
dibuat-buat”
Mengenai hal ini al-Qurṭubȋ
menyebutkan bahwa al-Qur’an ini bukanlah perkataan yang dibuat-buat yang bukan dari
sisi Allah atau dalam kisah ini (Nabi Yusuf dan kaumnya, pen.) bukan pula kisah
fiktif yang diada-adakan[3]. Ibrah yang bisa kita ambil hanyalah yang
berasal dari kisah nyata dan bukan fiktif. Bagaimana kita bisa mengambil hikmah
dan pelajaran yang bersumber dari khayalan, dan kebohongan, padahal Islam
mengajarkan kebenaran, kejujuran dan kebersihan hati.
Teladan yang kita ambil adalah
kisah orang saleh yang mengedepankan kebenaran dan kejujuran, atau kisah orang
zalim untuk dipahami dan dijauhi perbuatan kezalimannya. Ajaran Islam adalah
nyata dan real serta bukan fiktif, tradisi Islam adalah tradisi yang mengedepankan
kejujuran, keluhuran budi dan kebenaran. Bukan tradisi barat yang banyak
berhutang ke Yunani dengan kisah fiktif atau semi fiktif seperti Troya dan
Hercules.
Ketiga : al-Qur’an menjelaskan
segala sesuatu, termasuk di dalamnya perkara hukum, akidah, akhlaq, perkara
gaib, kisah umat terdahulu, kisah masa yang akan datang dari perkara hari
kiamat atau perkara lainnya yang akan memberi faidah bagi semua manusia.
Keempat : al-Qur’an adalah kitab
hidayah dan petunjuk bagi umat manusia yang mampu mengantarkan manusia dari
kegelapan menuju jalan yang terang benderang, kisah dan sejarah termasuk salah
satu metode yang bisa digunakan untuk memberi hidayah manusia menuju jalan yang
lurus.
Wallahua'lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar