Sabtu, 11 Mei 2019

Kisah dalam al-Qur'an



لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  
            Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman[1]. (Yusuf 111)
Ayat dalam surat Yusuf diatas memberi beberapa petunjuk yang agung bagi umat manusia, pertama : Kisah para nabi dengan kaumnya; bagaimana orang yang beriman diselamatkan dan celakanya orang yang kafir terdapat ibroh dan pelajaran bagi orang yang berakal[2], karena yang lebih terpenting dalam sejarah bukan hanya transmisi cerita dari satu pihak ke pihak yang lain akan tetapi makna yang terkandung dan pelajaran penting yang harus dicamkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-sehari. Ayat yang sejenis ini; yang berkaitan dengan perintah kepada manusia untuk menggunakan segala potensi yang ada pada dirinya untuk berpikir, menelaah dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekelilingnya sangat banyak  disebutkan dalam Al-Qur’an.
Kedua : Urgensi otentifikasi berita, dalam kalimat :
مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ
“Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat”
Mengenai hal ini al-Qurṭubȋ menyebutkan bahwa al-Qur’an ini bukanlah perkataan yang dibuat-buat yang bukan dari sisi Allah atau dalam kisah ini (Nabi Yusuf dan kaumnya, pen.) bukan pula kisah fiktif yang diada-adakan[3].   Ibrah yang bisa kita ambil hanyalah yang berasal dari kisah nyata dan bukan fiktif. Bagaimana kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang bersumber dari khayalan, dan kebohongan, padahal Islam mengajarkan kebenaran, kejujuran dan kebersihan hati.
Teladan yang kita ambil adalah kisah orang saleh yang mengedepankan kebenaran dan kejujuran, atau kisah orang zalim untuk dipahami dan dijauhi perbuatan kezalimannya. Ajaran Islam adalah nyata dan real serta bukan fiktif, tradisi Islam adalah tradisi yang mengedepankan kejujuran, keluhuran budi dan kebenaran. Bukan tradisi barat yang banyak berhutang ke Yunani dengan kisah fiktif atau semi fiktif seperti Troya dan Hercules. 
Ketiga : al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu, termasuk di dalamnya perkara hukum, akidah, akhlaq, perkara gaib, kisah umat terdahulu, kisah masa yang akan datang dari perkara hari kiamat atau perkara lainnya yang akan memberi faidah bagi semua manusia.
Keempat : al-Qur’an adalah kitab hidayah dan petunjuk bagi umat manusia yang mampu mengantarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, kisah dan sejarah termasuk salah satu metode yang bisa digunakan untuk memberi hidayah manusia menuju jalan yang lurus.
Wallahua'lam.



                [1] Kementerian Agama RI, Mushaf Aisyah: al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: al-Hilal, Tanpa Tahun), hlm. 248.
                [2] Ibnu Kaṡȋr, Tafsȋr al-Qur’an al-Aẓȋm Jilid VI. Taḥqȋq Ridwan Jāmi’ Ridwan, ( Kairo : Maktabah Aulād Syaikh Li at-Turāṡ, Cet. 1, 2009), hlm. 3035.
                [3] Muhammad bin Ahmad al-Anṣārȋ al-Qurṭubȋ, al-Jāmi’ Li Ahkām al-Qur’an Jilid V, (Kairo: Dār al-Hadiṡ, 2010 M), hlm. 250.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...