Selasa, 24 Juli 2012

Dairah Al Ma'arif Al Utsmaniyah di Hyderabad Dekkan bag. 1

Sahabat Pena yang dirahmati Allah, edisi 5 Ramadhan kali kita akan mengangkat tema tentang salah satu perpustakaan penting di India; Perpustakaan Osmania yang dalam literatur biasanya diebut dengan "Dairah Al Ma'arif Al Utsmaniyah bi Hyderabad Dekkan" didalamnya terdapat sejumlah banyak manuskrip kuno Arab atau selain Arab. Salah satu sebab kenapa penulis ingin mengangkat tema ini selain karena Pena ada kecenderungan di bidang ini, sebab lain adalah tokoh yang kita angkat sebelumnya, yaitu Syaikh Abdurrahman Al Muallimi Al Yamani pernah tinggal lama di perpustakaan ini sebagai editor dalam rentang sekitar 30 tahun antara 1341-1371 H/1921-1951. 
Tulisan ini Pena terjemahkan dari Majalah Al Araby Vol 551. 10/2004 dalam rubrik yang ditulis oleh Zakaria Abdul Jawwad. Tulisan akan kami menjadi dua bagian : bagian pertama prolog dan kabar tentang Osmania University yang sekarang menjadi tempat bernaungnya perpustakaan, bagian kedua baru kita ulas tentang perpustakaan tersebut dan tambahan satu museum lagi di Hyderabad yang tergolong museum terbesar ketiga di India, museum itu bernama Salar Jung. Akhir kata selamat menikmati.

Perpustakaan Osmania di India, Benteng Pelindung Turats Arab.

Perpustakan ini terletak di lereng dataran tinggi Dekkan di India, jejaknya terkubur oleh zaman dari masa ke masa, menjaga turats Arab dalam jumlah besar, seiring berjalannya tahun, dan perputaran waktu, sedih atau gembira, pasang atau surut, pepustakaan ini senantiasa eksis bersama para prajuritnya yang ikhlas dari bumiputra India, memilah, mengumpulkan, dan mengedit manuskrip arab yang tersebar di seluruh penjuru dunia.
Perhatian yang besar terhadap bahasa Arab sungguh sangat mencengangka kami, sebagai bagian dari beberapa kejutan yang kami dapatkan dalam perjalanan kami ke India, sampai saking banyaknya yang menyambut kami dengan bahasa Arab kami menyangka bahwa kami berada di daerah Arab, walaupun terkadang sedikit tercampur dengan lidah Ajam.
Mungkin mustahil bagi kami untuk meninggalkan anak benua India ini tanpa rasa kaget yang luar biasa, bagaimana tidak ketika kami dapati bahwa Bahasa Arab diajarkan di fase sekolah dasar sebagai mata pelajaran pokok bagi anak-anak minoritas India yang jumlahnya mencapai 200 juta jiwa, di waktu yang bersamaan Bahasa Arab menjadi menjadi bahasa pengantar kedua di sekolah-sekolah di beberapa kota seperti Hyderabad.
Kami juga mendapati adanya lomba Bahasa Arab tahunan yang diadakan pemerintah India, disediakan pula hadiah bagi peserta atas sumbangsih yang mereka berikan untuk Bahasa Arab.
Dalam perjalanan singkat kami ke sana kami mendapatkan dua undangan: yang pertama dari jurusan Bahasa Arab di Universitas Jawaharlal Nehru di New Delhi, dan yang kedua dari Cantral Institut untuk Bahasa-bahasa asing di Hyderabad, baru kemudian kami mengetahui bahwa setiap Universitas di India memiliki jurusan Bahasa  Arab, dan juga fakta lain yang kami dapatkan bahwa Negara ini menyimpan lebih dari 50.000 manuskrip berbahasa Arab.
Dari sini, perjalanan kami menuju ke Hyderabad, disana terletak Osmania University yang masyhur sejak didirikan dan sampai sekarang eksis memberikan sumbangsih yang luar biasa untuk perkembangan Bahasa Arab di anak benua India, sama dengan atau malah melebihi sumbangsih yang diberikan oleh Nadwah Ulama di Lucknow.
Barangkali nilai lebih Perpustakan Osmania ini plus Osmania University adalah sumbangsih nyata menjaga kekayaan manuskrip dan buku-buku Arab yang rentan musnah dan hilang, (kalau tidak ada perpustakaan ini) yang senantiasa eksis dengan kiprah nyata menjaga turats Arab, yang dipilah dari seluruh penjuru dunia. Sungguh aneh kenyataan yang kita lihat keikhlasan yang luar biasa dari kaum muslimin di India dan konsistensi nyata untuk membeli manuskrip dari seluruh penjuru dunia, kemudian diedit dan diterbitkan dengan peralatan cetak yang kuno dan sederhana, orang akan terkejut ketika melihat sumbangsih yang diberikan kepada perpustakaan internasional dengan kitab berjilid-jilid tebalnya yang ditulis pada zaman dahulu dengan bahasa Arab, sedangkan bangsa Arab sendiri sibuk dengan mimipi-mipinya yang lain.
Pada pagi hari kami datang di gedung Osmania University yang menginduk dana dan pengawasannya ke Negara bagaian Andra Pradesh, universitas ini didirikan pada tahun 1918 dan pembangunan gedungnya rampung pada tahun 1938 atas perintah dari Mir Osman Ali Khan Wali Hyderabad pada waktu itu, dengan tujuan untuk menyebarkan Bahasa Arab dan pendidikan Islam di Hyderabad, dan nama universitas berasal dari nama wali Hyderabad pada masa itu Mir Osman Ali Khan (1886-1967), bukan berasal dari dinasti Turki Utsmani seperti yang mungkin pertama kali terbayang di pikiran kita ketika nama itu disebut.
Kami menuju ke gedung yang tercium aroma klasiknya, di salah satu bagian gedung itu tedapat fakultas sastra yang salah satu jurusannya adalah Bahasa Arab, fakultas ini hanyalah salah satu bagian dari beberapa fakultas dibawah naungan Osmania University. Di dalam ruang jurusan ini kami bertemu dengan sejumlah dosen, sebagian dari mereka pemenang lomba Bahasa Arab yang diadakan Pemerintah India.
Sedari awal, Prof. Abdul Hamid menyatakan bahwa jurusan yang telah menghasilkan ribuan alumni ini telah memberikan sumbangsih yang agung bagi perkembangan Bahasa Arab, paling tidak hal itu nampak dari munculnya segolongan akademisi dan para penya’ir besar diantaranya Abdussattar Shiddiqy, Muhammad Abdul Haq dan Abdul Mu’in Khan; nama-nama yang sudah terkenal di seantero India itu alumni jurusan ini.
Kemudian beliau menambahkan, meskipun kegiatan belajar di jurusan menggunakan Bahasa Arab di semua mata kuliahnya, posisi Bahasa Arab di universitas masih menepati posisi kedua setelah Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama kegiatan belajar mengajar di India di semua level pendidikan.
Disamping program akademis magister dan doktoral, jurusan ini juga mengadakan semacam kursus kecakapan bagi yang ingin belajar Bahasa Arab, disamping itu juga ada program tambahan lain yang disebut “Senior Diplomat” bagi yang ingin memperdalam Bahasa Arab dan memahami Al Quran Al Karim serta Sunnah An Nabawiyah, beliau juga mnambahkan bahwa sejumlah besar dari alumni dipercaya untuk menduduki posisi-posisi penting di kedutaan-kedutaan India di Negara-negara Arab sebagaimana mereka juga masuk ke sektor pendidikan di beberapa sekolah asing di Negara-negara tadi.
Prof. Abdul Majid sambil bersemangat menyampaikan bahwa jumlah peminat Bahasa Arab semakin bertambah di seluruh penjuru anak benua India, sebab dari hal itu kembali ke Al Qur;an dan As Sunnah, karena kaum muslimin berkeinginan untuk bisa memahami keduanya dengan belajar Bahasa Arab, disamping adanya peluang kerja di Negara-negara teluk bagi tenaga kerja dari India juga menjadi sebab lain berkembangnya Bahasa Arab dan bertambahnya jumlah peminat belajar Bahasa Arab.
Sebagaimana juga Prof. Qomarunnisa Begum menyampaikan kepada kami indikasi kuat dari para pemudi untuk belajar Bahasa Arab, hal itu ditunjukkan dengan bertambahnya jumlah mahasiswi yang sekarang belajar di jurusan ini.
Nampak pembicaraan ini semakin menarik, tapi Prof. Abdul Majid menyampaikan singkat “Kami hidup di bukan lingkungan Arab tetapi kami berusaha menciptakan “atmosfer” Arab bagi mahasiswa, agar mereka bisa sebisa mungkin memiliki kecakapan Bahasa Arab yang mumpuni.
Beliau juga menambahkan keinginan jurusan untuk pertukaran misi pengajaran dengan Universitas-universitas Arab, persis seperti jalinan kerjasama antara Universitas-universitas di Iran dengan jurusan Bahasa Persia di Osmania University, dengan dikirimnya beberapa dosen ke jurusan ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...