Rabu, 06 Maret 2019

Kontradiksi Khawarij dan Syiah masa Umawiyah*


Wilayah Daulah Umawiyah pada puncak kejayaannya
thethinkingmuslim.com 


Oleh: Mahmud Syakir –rahimahullah-

Mahmud Syakir –rahimahullah- ketika menyebut celaan kepada Daulah Umawiyah karena banyaknya musibah yang menimba Ahl al-Bait mengatakan[1]:
“Jika mereka (Syi’ah) menisbatkan sifat ma’shum kepada imam-imam mereka, bagaimana bisa menolak apa yang dilakukan imam mereka dan tidak tunduk dan patuh kepada mereka? Mereka menepi dan tidak membantu Husain[2], begitu terhadap Zaid[3] setelah mereka menyeru manusia untuk memberontak (kepada Umawiyah) bahkan Syiah kemudian mendukung Umawiyah.
Berdasarkan penelitian terhadap referensi sejarah yang ada, Khawarij mengalami musibah lebih besar dan lebih banyak daripada Ahl al-Bait. Namun perang melawan Khawarij merupakan kebutuhan mendesak bagi Daulah Umawiyah, sehingga pemerintah benar dalam masalah ini.
Adapun perlawanan dari Ahl al-Bait digambarkan bahwa kebenaran berada pada pihak pemberontak dan pemerintah dianggap melakukan kezaliman dan jauh dari penerapan syariat. Bagaimana pemerintah dianggap adil di satu sisi dan dianggap zalim pada sisi yang lain (padahal sama-sama bertujuan menumpas perlawanan)?, (Daulah Umawiyah) menerapkan syariat di satu sisi dan menyelisihinya di sisi lain?
Tuntutan Khawarij adalah kekhilafahan di tangan orang saleh dan penerapan Islam, ini garis besar gerakan mereka meskipun mereka menyelisihi syariat yang dikenal semisal mengkafirkan muslim yang menyelisihi mereka dan mengkafirkan pelaku maksiat (dosa besar) dan menggapnya kekal di neraka.
Adapun tuntutan Syi’ah adalah menuntut ketundukan kepada kekuasaan Ahl al-Bait secara turun-temurun, namun di sisi lain mereka mengkritisi sistem pewarisan kekuasaan jika hal itu bukan pada orang yang mereka seru[4].
Hal ini menjadikan tudingan mengarah kepada pihak tertentu yang memiliki peran besar dalam menuliskan sejarah yang tercemar namun kemudian tersebar luas dan hal itu dianggap sebagai kebenaran[5]. Selesai nukilan.
   



[1] Mahmud Syakir, at-Tarikh al-Islami, al-Ahd al-Umawi, (Beirut: Maktab al-Islami, Cet. 7, 1421 H), hlm. 11.
* Judul ini dari penulis.
[2] Padahal Syi’ah lah yang mengundang Husain datang ke Kufah, namun mereka menyingkir hingga Muslim bin ‘Aqil sebagai utusan Husain ke Kufah terbunuh bahkan Husain terbunuh di tangan tentara Irak di bawah Umar bin Sa’d di Karbala. Mahmud Syakir bahkan memastikan bahwa mayoritas penduduk Kufah yang sebelumnya meminta Husain datang justru kemudian berbalik arah dan bergabung dengan pasukan Umar bin Sa’d, Daulah Umawiyah, hlm. 10.
[3] Zaid bin Ali bin Husain yang kemudian mengadakan perlawanan terhadap Umawiyah masa Hisyam bin Abdul Malik di Kufah tahun 122 H, ia bergerak setelah diminta oleh penduduk Kufah namun segera mereka meninggalkannnya sebagaimana yang sudah mereka lalukan pada kakeknya, Husain dan kakek buyutnya Ali bin Abi Thalib.
[4] Karena itu Dzahabi mengutip Ibnu Taimiyah dalam Mukhtashar Minhaj Sunnah mengatakan:
“...Dalil bisa dalil naqli atau akal, kaum tersebut (Syi’ah) termasuk yang paling banyak dustanya dalam naqliyyat, dan paling bodoh dalam masalah dalil akal, karena itu mereka dianggap sebagai “kelompok terbodoh”, karena itu telah masuk dalam agama berbagai kerusakan yang tidak bisa diketahui jumlahnya kecuali Allah. Nushairiyah dan Ismailiyyah masuk melalui pintu mereka, orang kafir dan murtad tiba dengan jalan mereka hingga mereka menguasai negeri-negeri Islam, menawan wanita, dan menumpahkan darah yang diharamakan”. Dzahabi, Mukhtashar Minhaj Sunnah, tahqiq dan ta’liq Muhibbuddin al-Khatib, (Riyadh:Wikalah Mathbu’ah wa Tarjamah Riasah al-Amah li Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa ad-Dakwah wa al-Irsyad), hlm. 20-21.
[5] Karena itu, Muhibbuddin al-Khatib (1389 H) mengatakan:
Sejarah Islam baru dituliskan masa Daulah Abbasiyah, hal itu menjadikan manusia sulit untuk menceritakan kejayaan masa lalu masa Umawiyah dan kegemilangan pelaku sejarah masa itu. Karena itu sejarah Islam dituliskan oleh tiga kelompok:
1. Pengejar dunia, mereka mencari kehidupan dengan mendekati pihak yang membenci Daulah Umawiyah dengan tulisan mereka.
2. Pihak yang meyakini bahwa agama mereka tidak sempurna kecuali dengan mencemarkan nama baik Abu Bakar, Umar, Usman, Usman, dan Bani Abdu Syams (Bani Umayyah masuk disini) secara keseluruhan. 
3. Orang yang agamis dan adil, seperti ath-Thabari (310 H), Ibnu Asakir (571 H), Ibnu al-Atsir (630 H), dan Ibnu Katsir (774 H).
Pihak ini memandang bahwa termasuk dari sikap adil dan netral adalah mengumpulkan semua riwayat dari para sejarawan dari setiap madzhab dan latar belakang seperti Abu Mikhnaf Luth bin Yahya (157 H) yang fanatik, dan Saif bin Umar at-Tamimi (180 H) yang pertengahan, bisa jadi sebagian orang terpaksa harus memuaskan pihak yang lebih kuat kuat dan lebih tinggi posisinya.
Pihak ini menyebutkan para perawi riwayat yang mereka sampaikan agar peneliti tahu setiap kabar dari pengetahuan akan perawi tersebut.
Warisan ini sampai kepada kita bukan sebagai sejarah kita, namun sebagai bahan kaya untuk dipelajari dan diteliti hingga menjadi sejarah kita. Hal ini memungkinkan dan mudah bagi yang mengetahui titik kekuatan dan titik lemah dari referensi ini”. Ibnu al-Arabi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibbuddin al-Khatib, (Kairo: Matba’ah Salafiyah, Cet. 4, 1396 M), hlm. 177.

Minggu, 03 Maret 2019

Antara Pendukung dan Pencela Usman bin Affan –radhiyallahuanhu-


gambar dari istidlal

Imam Thabari -rahimahullah- mengatakan[1]:
Mus’ab bin Abdullah az-Zubairi menyebutkan bahwa ayahnya, Abdullah bin Mus’ab mengabarkan kepadanya bahwa (Harun) ar-Rasyid berkata kepadanya:
“Apa pendapatmu tentang orang yang mencela Usman?”.
Mus’ab mengatakan: (Abdullah bin Mus’ab) mengatakan:
“Wahai Amir al-Mukminin, (sebagian) orang mencelanya dan (sebagian) orang bersamanya, orang yang mencelanya terpecah belah menjadi banyak kelompok Syi’ah, pengekor bid’ah, dan banyak kelompok Khawarij. Sedangkan yang bersama Usman bersama jama’ah hingga hari ini”.
(Ar-Rasyid) mengatakan padaku:
“Aku tidak lagi perlu untuk bertanya tentang hal ini sejak sekarang”.  Selesai.
Penulis –semoga Allah mengampuninya- mengatakan: Ibnu Taimiyah -rahimahullah- mengatakan[2]:
“...dan pendukung Usman adalah Muawiyah (bin Abi Sufyan) dan penduduk Syam, sedangkan pendukung pembunuh Usman adalah Mukhtar bin Abi Ubaid ath-Tsaqafi[3] dan teman-temannya. Orang yang berakal tidak meragukan lagi bahwa Muawiyah lebih baik dari Muhtar, karena ia seorang kazzab (pendusta) karena ia mengaku nabi. Telah jelas dalam Sahih bahwa Rasulullah mengatakan:
يكون فى ثقيف كذاب ومبير
Akan muncul di Tsaqif, pendusta dan penumpah darah
Pendusta ini adalah Mukhtar, sedangkan penumpah darah adalah Hajjaj bin Yusuf. Mukhtar ini ayahnya seorang yang saleh, Abu Ubaid ats-Tsaqafi yang mati syahid dalam perang melawan Majusi, sedangkan saudarinya adalah Shafiyyah yang diperistri Abdullah bin Umar dan ia wanita salehah, sedangkan Mukhtar ini seorang yang jelek. Selesai.
Wallahua’lam.

Ngangkruk, Ahad, 27 Jumada al-Akhir 1440 H/03 Maret 2019 M pkl. 16.37 WIB.


[1] Thabari. Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tahqiq Abu Fadhl  Ibrahim, (Kairo: Dar al-Ma’arif, Tt.),  8/353 peristiwa tahun 193 H.
[2] Dzahabi, Mukhtashar Minhaj Sunnah, tahqiq dan ta’liq Muhibbuddin al-Khatib, (Riyadh:Wikalah Mathbu’ah wa Tarjamah Riasah al-Amah li Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa ad-Dakwah wa al-Irsyad), hlm. 243-245..

[3]

Jumat, 01 Maret 2019

Al-Khatib (1389 H), Seorang Syiah dan Sikapnya terhadap Muawiyah –radhiyallahuanhu-


Jami' Umawi di Damaskus
gambar dari rorolia wordpress


Muhibbuddin al-Khatib adalah seorang penulis, jurnalis, alim yang memiliki semangat besar untuk mengenal umat Islam dengan masa lalunya yang gemilang. Perjalanan ilmiyahnya sekali waktu  mengantarkannya menuntut ilmu di Fakultas Hukum salah satu Universitas di Istanbul masa kekuasaan Sultan Abdul Hamid II (1876-1909 M).
Ia menceritakan pengalamannya bertemun dengan temannya Syiah, berikut penuturannya[1].
Kami ketika masih belajar di Konstantinopel[2] dalam satu majlis diantara para pelajar[3] yang sedang membahas tema perjalanan hidup Muawiyah dan kekhilafahannya. Kala itu masa kekuasaan Sultan Abdul Hamid (II). Kemudian, berdirilah Abdul Karim Qasim Khalil –seorang Syiah- dan mengatakan: “Kalian menyebut sultan kami dengan khalifah, aku saudara kalian Syi’ah mengumumkan bahwa Yazid bin Muawiyah (60-64 H) dengan perjalanan hidupnya yang baik lebih berhak menjadi khalifah dan lebih jujur dalam mengamalkan syariat Muhammad shallallahualaihiwasallam- daripada khalifah kami, apalagi ayahnya, Muawiyah (41-60)!”.

Penulis –semoga Allah mengampuninya- mengatakan:
Orang Syi’ah ini jujur dan benar dalam masalah ini, terlepas kekurangan yang ada pada Yazid –semoga Allah mengampuninya-, ia adalah salah satu pemimpin umat ini yang lebih baik dibandingkan para pemimpin Syi’ah.
Tentu saja hal itu tidak bisa dibandingkan dengan ayahnya, Muawiyah yang dikatakan sebaik-baik raja dalam Islam dengan persaksian umat Islam dan ulamanya.
Wallahua’lam

Ngangkruk, Ahad, 20 Jumada al-Akhir 1440 H/24 Februari 2019 M pkl. 10.56 WIB.



                [1]  Ibnu al-Arabi al-Andalusi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibuddin al-Khatib, (Kairo: Maktabah Salafiyah, Cet. 2, 1396 H), hlm. 208.
                [2] Ibukota Turki Usmani kala itu, terkadang disebut Istanbul, terkadang literatur Arab masa itu menyebutnya dengan Astana. Tentu saja beda dengan Astana yang menjadi ibukota Kazakhstan sekarang.
                [3] Al-Khatib pernah kuliah di Konstantinopel namun tidak selesai, hal itu dikarenakan usahanya untuk menyadarkan bangsa Arab dengan tradisinya, namun jangan disangka yang ia seru adalah paham kebangsaan yang sempit yang dicela agama, namun lebih dari itu ia mengajak mereka untuk menghargai tradisinya sebagai Muslim dan orang Arab karena Arab dimuliakan karena keislamannya. Ia mengadakan diskusi berbagai tema, kursus Nahwu, membahas tema dalam beberapa majalah berbahasa Arab yang diterbitkan di Mesir dan lainnya. Rupanya hal itu tidak disukai oleh Turki Usmani sehingga ia harus pulang ke kampung halamannya di Damaskus.

Sastra dan Distorsi Sejarah; Sebuah Pengantar



Sastra dan Distorsi Sejarah; Sebuah Pengantar
Dr. Abd al-Adzim Mahmud ad-Daib[1]


Prolog Penerjemah
Distorsi terjadi dalam banyak bidang, salah satunya di sejarah Islam. Secara makna bahasa distorsi berasal dari kalimat verbal bahasa Inggris distort yang bermakna:
1) twist out of a proper or natural shape,
2) to alter misleadingly,
3) to reproduce (sound) improperly[2].
Dalam pengertian lain dijelaskan bahwa distorsi adalah
4) to tell people about a fact, statement etc. in a way that changes its meaning[3]
Dalam bahasa sederhana, distorsi bermakna proses yang dilakukan untuk mengubah bentuk atau makna kabar berita yang disampaikan, dari referensi pertama terkesan perubahan tersebut terjadi secara umum dari bentuk asli yang benar dan natural. Dari referensi kedua terkesan bahwa fakta yang disampaikan dirubah sehingga terjadi perubahan makna dari makna fakta asal.
Dalam bahasa Arab yang dianggap sebagai padanan katanya adalah taḥrȋf, mengingat jamaknya penggunaan istilah ini untuk menggambarkan penyelewengan kata dan makna.
Kata taḥrȋf dalam al-Qur’an tersebut sebanyak empat kali, semuanya disebutkan dalam bentuk fi’il muḍảri’ dari kalimat ini yaitu يُحَرَّفُونَ sebanyak tiga kali di An-Nisa (4:46), al-Maidah (5:13) dan (5:41) serta bentuk يُحَرَّفُونَه sekali saja dalam Al-Baqarah (2:75)[4].
Secara etimologis taḥrȋf berarti mencondongkan atau memiringkan[5]. Menurut istilah berarti menggantinya dan mengubah maknanya[6].
Sehingga bisa dikatakan bahwa makna taḥrȋf adalah usaha untuk menyelewengkan data baik mengubah kata atau mengubah makna[7]. Pembahasan tentang taḥrȋf ini terutama banyak dibahas para ulama ketika membicarakan masalah aqidah, karena taḥrȋf termasuk penyelewengan yang terjadi dalam aqidah Islam.
Pembahasan tentang taḥrȋf sendiri tidak hanya terjadi dalam masalah aqidah saja, namun mencakup pembahasan kesejarahan Islam juga. Hal ini karena taḥrȋf ini menjadi alat penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh oknum tertentu untuk merusak sejarah Islam.

Pengaruh Sastra dalam Distorsi Sejarah Islam[8]
            Salah satu hal yang aksiomatis dan tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa sastra adalah cerminan masyarakat dan lingkungan dimana sastra tersebut tumbuh, dari sini sastra menjadi salah satu sumber terpenting Sejarah Islam.
Namun, statemen ini tidak bisa dimutlakkan begitu saja, sastra bukanlah bentuk catatan masyarakat dan lingkungan, namun ia seni yang menjelaskan beberapa potongan (peristiwa) yang terjadi di masyarakat dan digubah oleh sastrawan dari dalam dirinya dengan pengaruh dari reaksi dan perasaan dirinya akan sesuatu yang ia gambarkan. Dari sini akan didapati orang yang memuji dan mencela pada waktu yang bersamaan, pada satu hal sama.
Hal ini menjadikan sejarawan yang hendak menjadikan sastra –terlepas jenis satranya- sebagai salah satu referensinya, maka ia harus “betul-betul sadar dan waspada” ketika menganalisa karakteristik masa tertentu dari sastra, ia harus menjangkau keseluruhan karya sastra yang ada pada masa tersebut, kemudian ia harus menafsirkannya berdasarkan apa yang dilakukan dan disembunyikan pelaku sejarah masa tersebut. Ia juga harus menafsirkan “semangat zaman” yang mengarahkan dan menguasai mereka kala itu, tentu saja tanpa melupakan sumber-sumber sejarah lain. Selesai.
Wallahua’lam.

Ngangkruk, Kamis, 25 Jumada al-Akhir 1440 H/29 Februari 2019 M pkl. 17.11 WIB.
      



                [1] Berasal dari Mesir, pernah menjadi dosen dan ketua jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh di Universitas Qatar.
                [2] Peter Davies (ed.), The American Heritage Dictionary of The English Language (New York: Dell Publishing, 1983), hlm. 210.
                [3] Della Summers (director). Longman Active Study Dictionary International Students Edition, (Essex: Pearson Education, 2004), hlm. 190.
                [4] Muhammad Fuad Abdul Bāqȋ, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Ḥadȋṡ. 1428 H), hlm. 242.
                [5] Al-Wajȋz, hlm. 145.
                [6] Ibid, hlm. 145.
                [7] Muhammad bin Ṣāliḥ al-Uṡamȋn, Syarḥ Aqidah al-Wāsiṭiyyah, (Dammām: Dār Ibnu Jauzȋ, Cet. 4, 1427 H), hlm. 57.
                [8] Dari bukunya, Nahwa Ru’yah Jadidah Li at-Tarikh al-Islami; Nadzaraat wa Taswibaat, (Kairo: Dar al-Wafa’, Tt.), 93-94.


Kamis, 28 Februari 2019

Kerajaan Islam di Bari Italia




Kaum Muslim berhasil mendirikan keemiran Islam di jantung Italia, markaz kepausan Katolik. Keemiran ini bertahan sekitar 25 tahun (232 H/847 M – 257 H/871 M), keemiran ini bergantian dipegang oleh tiga penguasa. Posisi keemiran ini ada di Bari di region Apulia (dekat dengan Laut Adriatik).
Keemiran ini sama sekali dilupakan, karena diabaikan banyak referensi sehingga menjadi tidak terkenal. Padahal ini merupakan petualangan yang berani menurut ukuran apapun, tujuannya untuk meluaskan Islam hingga ke Eropa.

Sumber: Byzantine oleh Baz al-Uraini.
Sumber penulis: Kunnasyah Beiruti,25 Februari 2019. 

Khadzabandah dan Ibnu Muthahhir; Selangkah Menuju Syiahnya Iran dan Khurasan


                                                 gambar dari tajikam.com


                                    Oleh: Muhibbuddin al-Khatib[1] (1369)

Khadzabandah adalah nama Persia  yang berasal dari kalimat khadza yang bermakna Allah dan Bandah yang bermakna hamba sehingga makna nama ini adalah Abdullah, hamba Allah.
Khadzabandah ini adalah penguasa Ilkhan yang kedelapan dan keturunan keenam dari Jengiz, nama aslinya Jaitu (680-716) bin Argun (690) bin Abgha (681) bin Hulagu (663) bin Touli (628) bin Jengiz (Khan), sang penumpah darah (549-624) yang bergelar Ilkhan, kepadanyalah dinisbatkan negaranya.
Arghun; ayahnya, seorang pagan. Ia membelot di Khurasan atas pamannya; Teghudar bin Hulaghu karena ia melihat kepentingan politiknya mengharuskan ia masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Ahmad Teghudar sehingga  Arghun; ayah Khadzabandah hingga ia berhasil membunuhTeghudar tahun 683 H dan memguasai kerajaan Teghudar. Ia menuduh vizier ayahnya Syamsuddin al-Muhammadi telah meletakkan racun yang membunuh Abgha; ayahnya. Ia  kemudian membunuh vizier ini dan empat anaknya. Ia kemudian meninggalkan kekuasaannya untuk menurutkan syahwat pribadinya dan menyerahkan urusan kekuasaan kepada tabibnya yang Yahudi, Sa’d ad-Daulah. Tabib Yahudi ini kemudian melampau, berperilaku buruk,  menimbulkan kekacauan dan kerusakan yang menjadikan pemuka dan pegawai negara membelot dan membunuhnya. Arghun kemudian mati terkalahkan tahun 690. Argun ini memiliki dua anak, Jaitu (Khadzabandah) dan Ghazan (670-703). Keduanya memandang bahwa kepentingan politik mereka menuntut mereka masuk Islam dan berperilaku baik terhadap rakyatnya. Ghazan ini memilih madzhab Ahlu Sunnah dengan masuk Islam pada 4 Sya’ban 694, keislamannya ini di tangan Syaikh Ibrahim bin Muhammad Hamawaih al-Juwaini (Raudhah al-Jannat, hlm. 48). Ketika Jaitu ini menggantikan Ghazan tahun 703, orang-orang terdekatnya dipenuhi da’i-da’i Syiah.
Dikatakan pada suatu hari ia marah pada istrinya sehingga ia menalaknya tiga kali, namun ia kemudian ingin rujuk. Maka para fuqaha Ahlu Sunnah mengatakan padanya bahwa tidak ada jalan untuk rujuk wanita itu menikah dengan yang lain. Ia berat menghadapi masalah ini, hingga kemudian salah satu orang terdekatnya yang Syi’ah untuk mengundang seorang faqih Syi’ah dari kota Khillah yaitu Ibnu Muthahhir[2] ini dimana Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah menulis bantahan terhadapnya dalam Minhaj Sunnah ini. Orang-orang terdekatnya mastikan bahwa Ibnu Muthahhir ini yang akan melepaskannya dari kesulitan ini, ketika Ibnu Muthahhir datang Sultan meminta fatwa  kepadanya terkait talaknya yang sudah tiga kali. Ibnu Muthahhir mengatakan kepadanya: Apakah ketika engkau menalaknya dipersaksikan dua saksi yang adil?, Sultan menjawab: Tidak. Maka Ibnu Muthahhir berfatwa bahwa talak ini belum terpenuhi syaratnya sehingga tidak teranggap jatuh talak tiga sehingga ia bisa berkumpul dengan istrinya sebagaimana sebelum talak. Khadzabandah gembira dengan fatwa ini hingga ia meminta agar Ibnu Muthahhir menjadi orang dekatnya. Dengan usaha Ibnu Muthahhir inilah Khadzabandah kemudian memerintahkan para gubernurnya untuk berkhutbah di mimbar dan menyebut para imam yang dua belas, dan mengukir nama mereka dalam mata uang, dan memahat namanya di masjid-masjid. Negara ini kemudian tersyiahkan dengan fatwa Ibnu Muthahhir yang tidak membolehkan kembali pada istrinya meskipun sudah jatuh talak tiga tanpa harus menikahi laki-laki lain terlebih dahulu.
Hal ini langkah pertama untuk mensyi’ahkan Khurasan dan Iran. Dikatakan bahwa hal ini terjadi tahun 707 H. Langkah selanjutnya terjadi terjadi 300 tahun setelahnya yang mendorong Iran ke neraka dengan berdirinya Daulah Shafawiyah (1501-1760 M)[3] dengan mendukung pendapat yang dianggap ghuluw oleh Syi’ah terdahulu dan mengingkari riwayat yang menyebut setiap orang Syi’ah seperti ini sebagai orang yang ghuluw.  Ketika Shafawiyah yang kriminil ini kekuasaannya kuat, berubahlah semua Syiah menjadi ghulat (kelompok yang ghuluw) setelah sebelumnya hal seperti ini diangkap sebagai suatu ghuluw sehingga hal ini menjadi salah satu dasar penting madzhab  mereka sebagaimana disebut Allamah mereka yang kedua, al-Mamaqani (1290-1351) dalam beberapa tempat di karyanya (Tanqih al-Maqal) yang merupakan kitab terbesar mereka dalam Jarh wa Ta’dil.

Ngangkruk, Kamis, 24 Jumada al-Akhir 1440 H/28 Februari 2019 M pkl. 13.32 WIB.




[1] Dzahabi, Mukhtashar Minhaj Sunnah, tahqiq dan ta’liq Muhibbuddin al-Khatib, (Riyadh:Wikalah Mathbu’ah wa Tarjamah Riasah al-Amah li Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa ad-Dakwah wa al-Irsyad), hlm. 20-21.
[2] Hasan bin Muthahhir bin Yusuf bin Ali al-Khilli (648-726), salah satu pembesar Syiah, ia berguru kepada semacam Nashir Thusi (597-672), wazir atheis pembela kekufuran (yang bertanggungjawab atas kejatuhan Baghdad di tangan Mongol dengan pengkhianatannya,pen.). Maka ia tumbuh dengan penuhnya hati dengan kebencian kepada shahabat dan tabi’in, mendebat dengan mata kemurkaan semua kebaikan mereka yang belum pernah ada  bandingannya dalam sejarah manusia. Anda akan mendapati bukti kedengkian ini dalam tulisannya yang kemudian dimentahkan dan disingkap kedoknya oleh Syaikh al-Islam (Ibnu Taimiyah) dan menjadi pelajaran bagi yang terdahulu dan terkemudian. Ibid, hlm. 19.
[3] Negara ini menjadi contoh paripurna bagi Syiah Itsna Asyariah dalam menegakkan negara ideal menurut paham mereka, bagi penulis Revolusi Khomenei tahun 1979 M bisa dianggap sebagai langkah ketiga mensyiahkan Iran, bahkan nampak sekali usaha “mengekspor” revolusi ini ke berbagai negara. Irak, Yaman, dan Bahrain menjadi contoh mudah dalam masalah ini. Belum lagi meningkatnya suhu politik di Arab karena politik Iran yang agresif.

Rabu, 27 Februari 2019

Penghormatan Abbasiyah terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahuanhuma



Gambar dari mvslim.com
Model Baghdad masa Abbasiyah


Sikap umum Abbasiyah terhadap Umawiyah tentu saja sikap permusuhan, dan bentuk permusuhan tersebut bentuknya bermacam-macam. Terdapat pembunuhan walaupun yang mayoritas dibunuh adalah cabang Marwaniah dan bukan sufyaniah, mungkan karena penguasa Daulah Umawiyah dimulai dari  Marwan bin Hakam adalah anak cucunya sendirinya. Hal itu pula yang menjadikan Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik[1] yang berhasil lolos hingga ke Andalus dan kemudian mendirikan Daulah Umawiyah II yang berpusat di Cordoba Spanyol.
Namun yang menarik, adalah kisah yang dituliskan Ibnu al-Arabi al-Andalusi (468-543 H) yang datang ke Baghdad masa ia menuntut ilmu.
Mari menyimak penuturannya[2]:
“Kota Salam (Baghdad) ini[3], ibukota Khilafah Abbasiyah –dan (hubungan) antara mereka dengan Bani Umayyah manusia sudah mengetahuinya- tertulis di pintu-pintu masjidnya” Sebaik-baik manusia setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Usman, kemudian Ali, kemudian Muawiyah[4] pamandanya kaum Mukminin radhiyallahuanhum”.
Muhaqqiq buku itu, Muhibuddin al-Khatib (1389 H) memberikan komentarnya:
“Penulis (Ibnu al-Arabi) tinggal di Baghdad masa Daulah Abbasiyah sebagaimana sudah kami tuliskan dalam biografinya, sehingga ia mengetahui masjid-masjidnya dengan mata kepalanya sendiri. Muawiyah sendiri dsebut pamandanya kaum Mukminin karena ia adalah saudara dari Ibundanya kau Mukminin, Romlah bin Abi Sufyan yang terkenal dengan  kunyahnya yaitu Ummu Habibah[5]”.
Wallahua’lam.

Ngangkruk, Ahad, 20 Jumada al-Akhir 1440 H/24 Februari 2019 M pkl. 10.37 WIB.



[1] Ia kemudian lebih dikenal kemudian dengan Abdurrahman ad-Dakhil, Abu Ja’far al-Manshur, khalifah Abbasiyah menjulukinya dengan Shaqr Qurays (Elang Qurays), mungkin karena ulet dan sulitnya al-Manshur menundukkan ad-Dakhil.
[2] Ibnu al-Arabi al-Andalusi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibuddin al-Khatib, (Kairo: Maktabah Salafiyah, Cet. 2, 1396 H), hlm. 213.
[3] Menurut penuturan al-Khatib sendiri dalam mukaddimah tahqiqnya (hlm. 17) bahwa Ibnu al-Arabi datang ke Baghdad dua kali, kali pertama masa Khalifah al-Muqtadi dan al-Mustadzhir. Nampaknya, Ibnu al-Arabi tinggal di Baghdad, sehingga kedatangannya yang kedua karena terpotong perjalanan hajinya sekitar tahun 489 H hingga kemudian mukim sekian lama, ada kemungkinan sekitar setahun di Makkah. Ia kemudian kembali ke Baghdad hingga tinggal di Baghdad sekitar 2 tahun dan memutuskan kembali ke Sevilla melewati Damaskus, Palestine dan kemudian bertolak menuju Sevilla dari Iskandariah pada 493 H (hlm. 22-23).
[4] Maksud penyebutan Muawiyah setelah Ali bukan bermakna urutan keutamaannya dalam Islam, namun bermakna termasuk shahabat yang mulia setelah Ali, hal itu karena shahabat termulia setelah Ali adalah 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah, yaitu: 1) Abu Bakar, 2) Umar bin Khathhab, 3) Usman bin Affan, 4) Ali bin Abi Thalib, 5) Thalhah bin Ubaidillah 6) Sa’d bin Abi Waqqash,  7) Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah, 9) Abdurrahman  bin Auf, 10) Said bin Zaid. Baru kemudian dilanjutkan dengan urutan setelahnya semisal As-Sabiqun al-Awwalun, Ahlu Badr, dan lainnya. Sedangkan Muawiyah masuk Islam ketika Fath Makkah (8 H), atau semaju-majunya pada Umrah al-Qadha’ (7 H) dalam satu pendapat lain.
[5] Ibnu al-Arabi al-Andalusi, al-Awashim min al-Qawashim, hlm. 213.


Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...