Sikap umum Abbasiyah terhadap Umawiyah tentu saja sikap permusuhan, dan
bentuk permusuhan tersebut bentuknya bermacam-macam. Terdapat pembunuhan
walaupun yang mayoritas dibunuh adalah cabang Marwaniah dan bukan sufyaniah,
mungkan karena penguasa Daulah Umawiyah dimulai dari Marwan bin Hakam adalah anak cucunya
sendirinya. Hal itu pula yang menjadikan Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam
bin Abdul Malik[1]
yang berhasil lolos hingga ke Andalus dan kemudian mendirikan Daulah Umawiyah
II yang berpusat di Cordoba Spanyol.
Namun yang
menarik, adalah kisah yang dituliskan Ibnu al-Arabi al-Andalusi (468-543 H) yang
datang ke Baghdad masa ia menuntut ilmu.
Mari menyimak
penuturannya[2]:
“Kota Salam (Baghdad) ini[3], ibukota
Khilafah Abbasiyah –dan (hubungan) antara mereka dengan Bani Umayyah manusia
sudah mengetahuinya- tertulis di pintu-pintu masjidnya” Sebaik-baik manusia
setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Usman, kemudian
Ali, kemudian Muawiyah[4]
pamandanya kaum Mukminin radhiyallahuanhum”.
Muhaqqiq buku itu, Muhibuddin al-Khatib (1389 H) memberikan
komentarnya:
“Penulis (Ibnu al-Arabi) tinggal di Baghdad masa Daulah Abbasiyah
sebagaimana sudah kami tuliskan dalam biografinya, sehingga ia mengetahui
masjid-masjidnya dengan mata kepalanya sendiri. Muawiyah sendiri dsebut
pamandanya kaum Mukminin karena ia adalah saudara dari Ibundanya kau Mukminin,
Romlah bin Abi Sufyan yang terkenal dengan
kunyahnya yaitu Ummu Habibah[5]”.
Wallahua’lam.
Ngangkruk, Ahad, 20 Jumada al-Akhir 1440 H/24 Februari 2019 M pkl. 10.37 WIB.
[1] Ia kemudian lebih dikenal kemudian dengan
Abdurrahman ad-Dakhil, Abu Ja’far al-Manshur, khalifah Abbasiyah menjulukinya
dengan Shaqr Qurays (Elang Qurays), mungkin karena ulet dan sulitnya
al-Manshur menundukkan ad-Dakhil.
[2] Ibnu al-Arabi al-Andalusi, al-Awashim min
al-Qawashim, tahqiq Muhibuddin al-Khatib, (Kairo: Maktabah Salafiyah, Cet.
2, 1396 H), hlm. 213.
[3] Menurut penuturan al-Khatib sendiri dalam mukaddimah tahqiqnya
(hlm. 17) bahwa Ibnu al-Arabi datang ke Baghdad dua kali, kali pertama masa
Khalifah al-Muqtadi dan al-Mustadzhir. Nampaknya, Ibnu al-Arabi tinggal di
Baghdad, sehingga kedatangannya yang kedua karena terpotong perjalanan hajinya
sekitar tahun 489 H hingga kemudian mukim sekian lama, ada kemungkinan sekitar
setahun di Makkah. Ia kemudian kembali ke Baghdad hingga tinggal di Baghdad
sekitar 2 tahun dan memutuskan kembali ke Sevilla melewati Damaskus, Palestine
dan kemudian bertolak menuju Sevilla dari Iskandariah pada 493 H (hlm. 22-23).
[4] Maksud penyebutan Muawiyah setelah Ali bukan bermakna urutan
keutamaannya dalam Islam, namun bermakna termasuk shahabat yang mulia setelah
Ali, hal itu karena shahabat termulia setelah Ali adalah 10 orang yang dijamin
masuk surga oleh Rasulullah, yaitu: 1) Abu Bakar, 2) Umar bin Khathhab, 3)
Usman bin Affan, 4) Ali bin Abi Thalib, 5) Thalhah bin Ubaidillah 6) Sa’d bin
Abi Waqqash, 7) Abu Ubaidah ‘Amir bin
al-Jarrah, 9) Abdurrahman bin Auf, 10)
Said bin Zaid. Baru kemudian dilanjutkan dengan urutan setelahnya semisal As-Sabiqun
al-Awwalun, Ahlu Badr, dan lainnya. Sedangkan Muawiyah masuk
Islam ketika Fath Makkah (8 H), atau semaju-majunya pada Umrah
al-Qadha’ (7 H) dalam satu pendapat lain.
[5] Ibnu al-Arabi al-Andalusi, al-Awashim min
al-Qawashim, hlm. 213.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar