Rabu, 27 Februari 2019

Penghormatan Abbasiyah terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahuanhuma



Gambar dari mvslim.com
Model Baghdad masa Abbasiyah


Sikap umum Abbasiyah terhadap Umawiyah tentu saja sikap permusuhan, dan bentuk permusuhan tersebut bentuknya bermacam-macam. Terdapat pembunuhan walaupun yang mayoritas dibunuh adalah cabang Marwaniah dan bukan sufyaniah, mungkan karena penguasa Daulah Umawiyah dimulai dari  Marwan bin Hakam adalah anak cucunya sendirinya. Hal itu pula yang menjadikan Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik[1] yang berhasil lolos hingga ke Andalus dan kemudian mendirikan Daulah Umawiyah II yang berpusat di Cordoba Spanyol.
Namun yang menarik, adalah kisah yang dituliskan Ibnu al-Arabi al-Andalusi (468-543 H) yang datang ke Baghdad masa ia menuntut ilmu.
Mari menyimak penuturannya[2]:
“Kota Salam (Baghdad) ini[3], ibukota Khilafah Abbasiyah –dan (hubungan) antara mereka dengan Bani Umayyah manusia sudah mengetahuinya- tertulis di pintu-pintu masjidnya” Sebaik-baik manusia setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Usman, kemudian Ali, kemudian Muawiyah[4] pamandanya kaum Mukminin radhiyallahuanhum”.
Muhaqqiq buku itu, Muhibuddin al-Khatib (1389 H) memberikan komentarnya:
“Penulis (Ibnu al-Arabi) tinggal di Baghdad masa Daulah Abbasiyah sebagaimana sudah kami tuliskan dalam biografinya, sehingga ia mengetahui masjid-masjidnya dengan mata kepalanya sendiri. Muawiyah sendiri dsebut pamandanya kaum Mukminin karena ia adalah saudara dari Ibundanya kau Mukminin, Romlah bin Abi Sufyan yang terkenal dengan  kunyahnya yaitu Ummu Habibah[5]”.
Wallahua’lam.

Ngangkruk, Ahad, 20 Jumada al-Akhir 1440 H/24 Februari 2019 M pkl. 10.37 WIB.



[1] Ia kemudian lebih dikenal kemudian dengan Abdurrahman ad-Dakhil, Abu Ja’far al-Manshur, khalifah Abbasiyah menjulukinya dengan Shaqr Qurays (Elang Qurays), mungkin karena ulet dan sulitnya al-Manshur menundukkan ad-Dakhil.
[2] Ibnu al-Arabi al-Andalusi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibuddin al-Khatib, (Kairo: Maktabah Salafiyah, Cet. 2, 1396 H), hlm. 213.
[3] Menurut penuturan al-Khatib sendiri dalam mukaddimah tahqiqnya (hlm. 17) bahwa Ibnu al-Arabi datang ke Baghdad dua kali, kali pertama masa Khalifah al-Muqtadi dan al-Mustadzhir. Nampaknya, Ibnu al-Arabi tinggal di Baghdad, sehingga kedatangannya yang kedua karena terpotong perjalanan hajinya sekitar tahun 489 H hingga kemudian mukim sekian lama, ada kemungkinan sekitar setahun di Makkah. Ia kemudian kembali ke Baghdad hingga tinggal di Baghdad sekitar 2 tahun dan memutuskan kembali ke Sevilla melewati Damaskus, Palestine dan kemudian bertolak menuju Sevilla dari Iskandariah pada 493 H (hlm. 22-23).
[4] Maksud penyebutan Muawiyah setelah Ali bukan bermakna urutan keutamaannya dalam Islam, namun bermakna termasuk shahabat yang mulia setelah Ali, hal itu karena shahabat termulia setelah Ali adalah 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah, yaitu: 1) Abu Bakar, 2) Umar bin Khathhab, 3) Usman bin Affan, 4) Ali bin Abi Thalib, 5) Thalhah bin Ubaidillah 6) Sa’d bin Abi Waqqash,  7) Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah, 9) Abdurrahman  bin Auf, 10) Said bin Zaid. Baru kemudian dilanjutkan dengan urutan setelahnya semisal As-Sabiqun al-Awwalun, Ahlu Badr, dan lainnya. Sedangkan Muawiyah masuk Islam ketika Fath Makkah (8 H), atau semaju-majunya pada Umrah al-Qadha’ (7 H) dalam satu pendapat lain.
[5] Ibnu al-Arabi al-Andalusi, al-Awashim min al-Qawashim, hlm. 213.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...