Rabu, 20 Februari 2019

Antara Sejarah Islam dengan Sejarah Lain




Muhibbuddin al-Khatib (1389 H)

Al-Khatib–rahimahullah- mengatakan[1]:
Perbedaan
Termasuk dari perbedaan yang menakjubkan antara sejarah Islam dengan sejarah umat lainnya, dan sikap umat terhadap sejarahnya dibandingkan dengan sikap umat lain terhadap sejarah kita adalah bahwa sejarah umat ini adalah sejarah yang paling kaya: dari kabar, data, referensi, tanda, isyarat, dan tahqiq[2]. Namun umat ini menjadi yang paling paling sedikit dan paling fakir memanfaatkan kekayaan sejarah ini sebagai petunjuk jalan berdasarkan asasnya yang benar[3].
(Kebalikannya), umat lain telah mengadakan –bahkan dari khayalan[4]- “perpustakaan baru” untuk generasi dan mayoritas pembaca mereka yang penuh “kelezatan” lembaran masa lalu mereka hingga mereka menghubungkan generasi penerus dengan pendahulu mereka dan memudahkan bagi mereka untuk mengambil teladan dari kejayaan para pemuka mereka. Mereka juga membangkitkan gambaran hidup dari masa lalu tersebut yang menjadikan kepala mereka tegak dengan kejayaan mereka, hati mereka penuh dengan pengagungan dan penghormatan dengan mereka, akal mereka menjadi tenang dengan analisa atas tindakan (pendahulu) mereka dan mengambil pelajaran dengan kisah tersebut, dan melanjutkan langkah mereka menuju tujuan yang mereka tetapkan. Selesai.

Ngangkruk, Selasa, 16 Jumada al-Akhir 1440 H/19 Februari 2019 M pkl. 19.47 WIB.


[1] Sebagaimana dimuat di Majalah Azhar tahun 1954 M  hlm. 210 dengan judul dalam makalahnya “Al-Maraji’ al-Ula fi Tarikhina; Tarikh al-Umam wa al-Mulk li Abi Ja’far Muhammad bin Jarir ath- Thabari (224-310 H).
[2] Editing atas karya kesejarahan Islam.
[3] Sejarah adalah masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang. Ia adalah peristiwa masa lalu yang menjadi kenangan dan petunjuk bagi umat masa sekarang dan tetap akan menjadi modal bagi masa akan datang. Namun sayang Sejarah Islam begitu banyak mengalami distorsi, hal itu karena umat kurang mengambil peran untuk memaksimalkan peran sejarawan Muslim yang berakidah lurus dalam menerima sejarah Islam, ketika umat malah cenderung menerima tulisan sejarah Islam karya orientalis dan pengekor hawa nafsu maka gambaran umat akan sejarah pendahulu mereka kemudian berubah, dari kebanggaan menjadi keengganan karena melihat begitu banyak gambaran buruk tentang pendahulu mereka.
[4] Islam mengedepankan kejujuran, karena itu kisah yang ditampilkan adalah kisah nyata dan bukan fiksi. Beda hal dengan peradaban lain yang cenderung biasa menerima cerita fiksi. Adapun kecenderungan sebagian kelompok yang berusaha memfiksikan sejarah Islam, maka ini termasuk hal baru karena persentuhan dengan peradaban lain dimana hal ini belum dikenal pendahulu umat ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...