Muhibbuddin al-Khatib (1389 H)
Al-Khatib–rahimahullah-
mengatakan[1]:
Perbedaan
Termasuk dari perbedaan yang menakjubkan antara sejarah Islam dengan
sejarah umat lainnya, dan sikap umat terhadap sejarahnya dibandingkan dengan
sikap umat lain terhadap sejarah kita adalah bahwa sejarah umat ini adalah
sejarah yang paling kaya: dari kabar, data, referensi, tanda, isyarat, dan tahqiq[2].
Namun umat ini menjadi yang paling paling sedikit dan paling fakir
memanfaatkan kekayaan sejarah ini sebagai petunjuk jalan berdasarkan asasnya
yang benar[3].
(Kebalikannya), umat lain telah mengadakan –bahkan dari khayalan[4]-
“perpustakaan baru” untuk generasi dan mayoritas pembaca mereka yang penuh
“kelezatan” lembaran masa lalu mereka hingga mereka menghubungkan generasi
penerus dengan pendahulu mereka dan memudahkan bagi mereka untuk mengambil
teladan dari kejayaan para pemuka mereka. Mereka juga membangkitkan gambaran hidup
dari masa lalu tersebut yang menjadikan kepala mereka tegak dengan kejayaan
mereka, hati mereka penuh dengan pengagungan dan penghormatan dengan mereka, akal
mereka menjadi tenang dengan analisa atas tindakan (pendahulu) mereka dan
mengambil pelajaran dengan kisah tersebut, dan melanjutkan langkah mereka
menuju tujuan yang mereka tetapkan. Selesai.
Ngangkruk, Selasa, 16
Jumada al-Akhir 1440 H/19 Februari 2019 M pkl. 19.47 WIB.
[1]
Sebagaimana dimuat di Majalah Azhar
tahun 1954 M hlm. 210 dengan judul dalam
makalahnya “Al-Maraji’ al-Ula fi Tarikhina; Tarikh al-Umam wa al-Mulk li Abi
Ja’far Muhammad bin Jarir ath- Thabari (224-310 H).
[2]
Editing atas karya kesejarahan
Islam.
[3] Sejarah adalah masa lalu, masa sekarang, dan masa akan
datang. Ia adalah peristiwa masa lalu yang menjadi kenangan dan petunjuk bagi
umat masa sekarang dan tetap akan menjadi modal bagi masa akan datang. Namun
sayang Sejarah Islam begitu banyak mengalami distorsi, hal itu karena umat
kurang mengambil peran untuk memaksimalkan peran sejarawan Muslim yang
berakidah lurus dalam menerima sejarah Islam, ketika umat malah cenderung
menerima tulisan sejarah Islam karya orientalis dan pengekor hawa nafsu maka
gambaran umat akan sejarah pendahulu mereka kemudian berubah, dari kebanggaan
menjadi keengganan karena melihat begitu banyak gambaran buruk tentang pendahulu
mereka.
[4] Islam mengedepankan kejujuran, karena itu kisah yang
ditampilkan adalah kisah nyata dan bukan fiksi. Beda hal dengan peradaban lain
yang cenderung biasa menerima cerita fiksi. Adapun kecenderungan sebagian
kelompok yang berusaha memfiksikan sejarah Islam, maka ini termasuk hal baru
karena persentuhan dengan peradaban lain dimana hal ini belum dikenal pendahulu
umat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar