Suatu hal
yang pasti, tidak ada manusia yang sempurna dan terlepas dari kesalahan dan
kekhilafan. Di sisi yang lain tidak ada orang yang bisa lepas dari kebencian
orang lain, sebaik apapun orang tersebut.
Rasulullah
sebagai orang terbaik di dunia ini tidak lepas dari orang-orang yang
memusuhinya, berapa kali percobaan pembunuhan terhadapnya?. Berapa kali
Rasulullah diperangi?, sangat banyak. Ghazwah diperkirakan sekitar 25 kali, sariyyah
sekitar 50 kali.
Betul kata
Imam Syafi’i yang mengatakan:
ارضاء الناس غاية لا تدرك
“Kerelaan semua manusia suatu hal yang
tak akan tercapai”.
Daulah Umawiyah yang menguasi wilayah yang sangat luas,
dari Kasghar di Barat hingga Andalus di Barat, dari sebagian Asia Kecil di
Utara hingga Jazirah Arab di Selatan. Kekuasaan yang berlangsung selama lebih
dari 90 tahun dari 40-132 H memberikan sumbangsih besar dan pengaruh yang
signifikan dalam kehidupan bukan hanya umat Islam namun umat manusia secara
keseluruhan.
Pun begitu Daulah Umawiyah harus menghadapai kebencian
dari beberapa pihak, diantaranya:
1. Musuh alami Daulah Umawiyah, yaitu Syiah
dan Khawarij.
Kedua kelompok ini termasuk yang paling keras menghadapi
tekanan Umawiyah, hal itu kembali kepada kerasnya mereka melawan Umawiyah
dengan banyak cara yang mungkin mampu mereka lakukan. Permusuhan Syi’ah jelas
diawali dengan fanatisme mereka terhadap Ali dan keluarganya, fanatisme ini
semakin berkembang dalam bentuk yang berbeda ketika Abdullah bin Saba yang
Yahudi tersebut menyebarkan racun berbisanya, fanatisme ini semakin jauh dari
Islam. Usman al-Khamis mencatat bahwa Syi’ah bisa dikatakan menjadi entitas
politik baru terjadi ketika sebagian penduduk Kufah menuntut balas atas
kematian Husain yang kemudian gerakan ini disebut dengan gerakan Tawwabin 64-65
H[2] dan
gerakan lainnya.
Syi’ah juga melawan Daulah Umawiyah dengan cara yang
lain, akan muncul madrasah sejarah ala Syi’ah yang dimotori tokoh-tokoh utama
mereka seperti Abu Mikhnah Luth bin Yahya, Awanah bin Hakam, Hisyam al-Kalbi,
Muhammad bin Hisyam al-Kalbi, al-Asfahani penulis al-Aghani dan lainnya.
Madrasah ini berhasil memberikan sentuhan khas Syia’h
pada sejarah yang mereka tuliskan, kecenderungan kepada Alawiyyin yang
menonjol, pengagungan imam-imam mereka, kedustaan yang menjadi salah satu ciri
mereka karena bolehnya taqiyyah dalam keyakinan. Wajah Daulah Umawiyah
menjadi tercoreng dengan gaya kepenulisan Syi’ah ini dan gaya lain yang
mendistorsi sejarahnya. Jika pembaca mendapati orang biasa yang menganggap
bahwa Ali terzalimi oleh Abu Bakar yang merebut kekuasaan darinya, atau Usman
adalah orang yang nepotis, atau Muawiyah dan Amru bin Ash tamak kekuasaan, atau
Abu Musa al-Asy’ari adalah orang dungu dan bodoh maka ketahuilah bahwa mereka
terjangkit virus dari penulisan sejarah ala Syi’ah.
Khawarij adalah kelompok yang akan senatiasa menentang
penguasa jika dianggap menyelisihi prinsip mereka, sehingga sejarah gerakan ini
penuh dengan konflik berdarah karena mereka menganggap pemberontakan ini bagian
dari agama. Rasulullah sebagai manusia terbaik saja dimusuhi oleh penghulunya
Khawarij, Dzul Khuwaisirah at-Tamimi yang memprotes pembagian rampasan perang
Hunain di Ji’irannah hingga Umar dan Khalid sampai meminta ijin Rasulullah
untuk membunuhnya namun permintaan keduanya tidak dikabulkan.
Logikanya, jika Rasulullah yang ma’shum saja
dilawan, apatah lagi penguasa Umawiyah, apatah lagi penguasa Muslim jaman
sekarang!.
2. Musuh politik Daulah Umawiyah, yaitu
Daulah Abbasiyah.
Daulah Umawiyah runtuh pada tahun 132 H, Daulah Abbasiyah
kemudian berdiri di atas reruntuhan Umawiyah. Tidak diragukan lagi banyak
faktor yang menyebabkan runtuhnya Umawiyah namun peran Abbasiyah dalam masalah
ini sangat terang seperti matahari di siang bolong. Bahkan kebencian mereka
juga nampak dengan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap dinasti Umawiyah.
Korban terbesar mereka berasal dari keluarga Marwan dimana kekuasaan Umawiyah
sejak tahun 64 H di tangan Marwan dan keturunannnya hingga penguasa terakhirnya
Marwan bin Muhammad bin Marwan yang terbunuh di desa Bushir di Giza Mesir tahun
132 H. Adapun korban dari cabang keturunan Abi Sufyan cenderung lebih sedikit,
hal itu barangkali disebabkan kekuasaan dalam waktu yang cukup panjang berada
di cabang Marwan sehingga mereka cenderung menjadi target utama, sedangkan
cabang Abu Sufyan tidak begitu teranggap berbahaya. Mungkin karena ini pula
Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik kemudian melarikan diri
melewati perjalanan yang berat hingga akhirnya sampai di Andalus mendirikan
Daulah Umawiyah Jilid Kedua di Andalus, karena dia keturunan cabang keluarga
Marwan.
Abbasiyah berdiri sejak 132 H sejak dibaiatnya Abu
al-Abbas yang terkadang disebut dengan as-Saffah di Kufah tahun itu, Abbasiyah
mampu bertahan sekitar 5 abad lebih hingga runtuhnya negara ini dengan jatuhnya
Baghdad dan terbunuhnya penguasa terakhir mereka Musta’shim pada tahun 656 di
tangan Mongol di bawah Hulagu Khan.
Sikap Abbasiyah terhadap Umawiyah selama 5 abad lebih ini
cukup berpengaruh pada masyarakat secara umum, apalagi disebut bahwa penulisan
sejarah Islam baru dilakukan pada masa Daulah Abbasiyah sebagaimana disebut
Muhibbuddin al-Khatib, sehingga manusia secara umum kesulitan untuk
membanggakan tokoh-tokoh Daulah Umawiyah dan kejayaan yang sudah dicapai masa
Umawiyah [3].
Namun kondisi umum ini menjadi cobaan bagi para
pemerhati, pegiat, dan penulis Sejarah Islam untuk berpikir bijak, jernih, dan
berlaku adil dalam melihat sejarah Daulah Umawiyah meski kondisi tidak selalu
menguntungkan untuk menilai dengan adil. Karena itu dengan sendirinya terjadi pengelompokan
dengan bermunculannya tipe-tipe penulisan sejarah Umawiyah dari yang berlaku
adil dalam menilai, dari yang mencari kepuasan materi dengan mencela Umawiyah
atau dari pihak yang meyakini bahwa pencelaan terhadapa Daulah Umawiyah adalah
bagian dari agama.
3. Orang Awam
Orang awam mewakili banyak manusia, mereka hanya memahami
sejarah Daulah Umawiyah berdasarkan apa yang mereka dengar, apa yang mereka
baca, dan apa yang dituliskan oleh orang. Mereka belum bisa membedakan antara
madu dan racun. Mana itu kesalahan, mana itu kekhilafan, mana itu ijtihad dsb.
Mereka terombang-ambing dengan pusaran ombak yang ada kala itu, mereka belum
menyelamatkan diri hingga tenggelam dalam ganasnya gelombang yang menghantam
mereka.
Masyarakat umum dari dulu hingga sekarang
terombang-ambing dengan arus utama yang berkembang di setiap masa, salah satu
arus utama yang berkembang ketika masa awal penulisan sejarah Islam adalah arus
Syi’ah yang memiliki ciri khas khusus yang berpengaruh pada masannya.
Arus ini sedikit banyak mempengaruhi persepsi masyarakat
kala, lihat saja bagaimana distorsi sejarah mempengaruhi pandangan penduduk
Irak hingga mereka sangat mencintai Ali dan membenci Muawiyah yang mereka
wariskan kepada anak-cucu mereka. Kebalikannya, lihat pula bagaimana penduduk
Syam sangat mencintai Muawiyah dan membenci Ali dan pendukungnya. Lihat saja
sebab terbunuhnya Imam an-Nasāȋ (w. 303 H) ketika menuliskan kitabnya : Khaṣāiṣ
Amir al-Mukmȋnȋn Ali bin Abi Thalib. Alasan penulisan buku itu sebagaimana
ia katakan sendiri: Saya masuk ke Damaskus dan yang menyimpang dari (kecintaan)
terhadap Ali jumlahnya banyak, maka saya menuliskan kitab (Khaṣāiṣ) dengan harapan
agar mereka mendapatkan hidayah Allah[4] .
Namun, harga yang dibayarkan rupanya sangat mahal hingga
ia dipukuli di Damaskus dan dibawa ke Ramallah hingga meninggal di tempat
tersebut sebagaimana disebut aż-Żahabȋ[5].
Pengaruh itu masih terasa sampai sekarang, silahkan dicek
tulisan sejarawan Syiah yang masih cukup mewarnai karya sejarawan masa kini.
Orientalisme pun yang kemudian menghegemoni penulisan
sejarah Islam pasti akan mengambil banyak tulisan sejarawan Syiah dengan
“polesan modern”.
Mari kita lihat apa yang terjadi, silahkan Anda tanya
secara acak kepada remaja Muslim seusia SMA tentang Muawiyah dan Amru bin Ash.
Penulis yakin jawabannya akan lari kepada dua hal: tidak tahu atau mencela
keduanya karena dianggap haus kekuasaan. Penulis yakin akan sulit mendapatkan
jawaban bahwa keduanya harus dihormati sebagai shahabat Rasulullah.
Karena hal itu pula jarang orang awam jarang yang bisa
selamat dari sejarah yang terdistorsi ini, tak heran jika Sufyān aṡ-Ṡaurȋ (w.
161 H) mengatakan bahwa “Tidak akan
bertemu kecintaan terhadap Ali dan Uṡmān kecuali ulama terpilih[6] ”. Penulis menyebutkan ini
karena mustahil seorang pemerhati sejarah Daulah Umawiyah akan memahami masalah
dengan baik tanpa memahami rentetan peristiwa yang terjadi masa Usman dan Ali, karena peristiwa masa
keduanya mempengaruhi berdirinya Daulah Umawiyah. Tak heran semua penulis yang
menulis sejarah Umawiyah –sepengetahuan penulis- pasti akan memberikan gambaran
peristiwa masa Usman dan Ali.
4. Orang baik yang mengandalkan
perasaannya
Jenis terakhir ini memusuhi Daulah Umawiyah karena
keprihatinan mereka yang mendalam atas apa yang terjadi pada umat Islam, dari
berpindahnya sistem syura pada masa Khulafa ar-Rasyidin menjadi sistem pewarisan
kekuasaan masa Daulah Umawiyah. Mereka prihatin dengan musibah yang menimba ahlu
al-bait, penyerangan Madinah masa Yazid yang menimbulkan peperangan di haram
yang mulia, bencana yang menimba Makkah dari penyerangan Hajjaj kepada
Abdullah bin Zubair, musibah yang menimba keluarga Zubair, dan kekejaman
sebagian gubernur Umawiyah.
Mereka mengandalkan perasaannya tanpa bisa melihat dengan
jernih berdasarkan sudut pandang syar’i akan masalah yang terjadi pada fase
Umawiyah, mereka sulit untuk membedakan motif satu pihak dan motif pihak yang
lain lagi. Apatah lagi jika terkait dengan ahlu al-bait atau keluarga
shahabat terkemuka. Jika emosi mengalahkan logika, anda tidak akan tahu kemana
anda akan melangkah.
Semua pihak yang disebutkan di atas berbicara atau
menulis tentang Daulah Umawiyah tanpa bisa membedakan sebab, motif, latar
belakang, hakekat perselisihan, hakekat ijtihad yang diambil, proporsi jasa,
proporsi kelemahan dan sisi-sisi lain dari sejarah Umawiyah. Akhirnya, mereka
terpancing untuk melemparkan isu tentang sejarah fase ini tanpa penelitian,
tanpa analisa, tanpa klarifikasi sehingga arus besar yang tersebar dianggap
menjadi fakta yang terbantahkan. Layak dikatakan bahwa sejarah Daulah Umawiyah sudah
terzalimi dan sudah tidak adil dan proporsional lagi, menjadi kewajiban umat
untu bangkit dan mengetahui dengan benar hakekat sejarahnya karena sejarah ini
bukan hanya menjadi masa lalu umat, namun menjadi masa kini karena menerangi
jalannya umat dengan pengalaman yang diberikan, dan akan menjadi masa depan
karena menjadi modal bagi jalannya umat kelak.
Wallahua’lam.
Ngangkruk, 13 Jumadi al-Akhir
1440/17 Februari 2019 pkl. 16.47 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar