Minggu, 17 Februari 2019

Pihak yang Memusuhi Daulah Umawiyah[1]




Suatu hal yang pasti, tidak ada manusia yang sempurna dan terlepas dari kesalahan dan kekhilafan. Di sisi yang lain tidak ada orang yang bisa lepas dari kebencian orang lain, sebaik apapun orang tersebut.
Rasulullah sebagai orang terbaik di dunia ini tidak lepas dari orang-orang yang memusuhinya, berapa kali percobaan pembunuhan terhadapnya?. Berapa kali Rasulullah diperangi?, sangat banyak. Ghazwah diperkirakan sekitar 25 kali, sariyyah sekitar 50 kali.
Betul kata Imam Syafi’i yang mengatakan:
ارضاء الناس غاية لا تدرك
“Kerelaan semua manusia suatu hal yang tak akan tercapai”.
Daulah Umawiyah yang menguasi wilayah yang sangat luas, dari Kasghar di Barat hingga Andalus di Barat, dari sebagian Asia Kecil di Utara hingga Jazirah Arab di Selatan. Kekuasaan yang berlangsung selama lebih dari 90 tahun dari 40-132 H memberikan sumbangsih besar dan pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bukan hanya umat Islam namun umat manusia secara keseluruhan.
Pun begitu Daulah Umawiyah harus menghadapai kebencian dari beberapa pihak, diantaranya:

1. Musuh alami Daulah Umawiyah, yaitu Syiah dan Khawarij.
Kedua kelompok ini termasuk yang paling keras menghadapi tekanan Umawiyah, hal itu kembali kepada kerasnya mereka melawan Umawiyah dengan banyak cara yang mungkin mampu mereka lakukan. Permusuhan Syi’ah jelas diawali dengan fanatisme mereka terhadap Ali dan keluarganya, fanatisme ini semakin berkembang dalam bentuk yang berbeda ketika Abdullah bin Saba yang Yahudi tersebut menyebarkan racun berbisanya, fanatisme ini semakin jauh dari Islam. Usman al-Khamis mencatat bahwa Syi’ah bisa dikatakan menjadi entitas politik baru terjadi ketika sebagian penduduk Kufah menuntut balas atas kematian Husain yang kemudian gerakan ini disebut dengan gerakan Tawwabin 64-65 H[2] dan gerakan lainnya.
Syi’ah juga melawan Daulah Umawiyah dengan cara yang lain, akan muncul madrasah sejarah ala Syi’ah yang dimotori tokoh-tokoh utama mereka seperti Abu Mikhnah Luth bin Yahya, Awanah bin Hakam, Hisyam al-Kalbi, Muhammad bin Hisyam al-Kalbi, al-Asfahani penulis al-Aghani dan lainnya.
Madrasah ini berhasil memberikan sentuhan khas Syia’h pada sejarah yang mereka tuliskan, kecenderungan kepada Alawiyyin yang menonjol, pengagungan imam-imam mereka, kedustaan yang menjadi salah satu ciri mereka karena bolehnya taqiyyah dalam keyakinan. Wajah Daulah Umawiyah menjadi tercoreng dengan gaya kepenulisan Syi’ah ini dan gaya lain yang mendistorsi sejarahnya. Jika pembaca mendapati orang biasa yang menganggap bahwa Ali terzalimi oleh Abu Bakar yang merebut kekuasaan darinya, atau Usman adalah orang yang nepotis, atau Muawiyah dan Amru bin Ash tamak kekuasaan, atau Abu Musa al-Asy’ari adalah orang dungu dan bodoh maka ketahuilah bahwa mereka terjangkit virus dari penulisan sejarah ala Syi’ah.
Khawarij adalah kelompok yang akan senatiasa menentang penguasa jika dianggap menyelisihi prinsip mereka, sehingga sejarah gerakan ini penuh dengan konflik berdarah karena mereka menganggap pemberontakan ini bagian dari agama. Rasulullah sebagai manusia terbaik saja dimusuhi oleh penghulunya Khawarij, Dzul Khuwaisirah at-Tamimi yang memprotes pembagian rampasan perang Hunain di Ji’irannah hingga Umar dan Khalid sampai meminta ijin Rasulullah untuk membunuhnya namun permintaan keduanya tidak dikabulkan.
Logikanya, jika Rasulullah yang ma’shum saja dilawan, apatah lagi penguasa Umawiyah, apatah lagi penguasa Muslim jaman sekarang!.

2. Musuh politik Daulah Umawiyah, yaitu Daulah Abbasiyah.
Daulah Umawiyah runtuh pada tahun 132 H, Daulah Abbasiyah kemudian berdiri di atas reruntuhan Umawiyah. Tidak diragukan lagi banyak faktor yang menyebabkan runtuhnya Umawiyah namun peran Abbasiyah dalam masalah ini sangat terang seperti matahari di siang bolong. Bahkan kebencian mereka juga nampak dengan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap dinasti Umawiyah. Korban terbesar mereka berasal dari keluarga Marwan dimana kekuasaan Umawiyah sejak tahun 64 H di tangan Marwan dan keturunannnya hingga penguasa terakhirnya Marwan bin Muhammad bin Marwan yang terbunuh di desa Bushir di Giza Mesir tahun 132 H. Adapun korban dari cabang keturunan Abi Sufyan cenderung lebih sedikit, hal itu barangkali disebabkan kekuasaan dalam waktu yang cukup panjang berada di cabang Marwan sehingga mereka cenderung menjadi target utama, sedangkan cabang Abu Sufyan tidak begitu teranggap berbahaya. Mungkin karena ini pula Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik kemudian melarikan diri melewati perjalanan yang berat hingga akhirnya sampai di Andalus mendirikan Daulah Umawiyah Jilid Kedua di Andalus, karena dia keturunan cabang keluarga Marwan.
Abbasiyah berdiri sejak 132 H sejak dibaiatnya Abu al-Abbas yang terkadang disebut dengan as-Saffah di Kufah tahun itu, Abbasiyah mampu bertahan sekitar 5 abad lebih hingga runtuhnya negara ini dengan jatuhnya Baghdad dan terbunuhnya penguasa terakhir mereka Musta’shim pada tahun 656 di tangan Mongol di bawah Hulagu Khan.
Sikap Abbasiyah terhadap Umawiyah selama 5 abad lebih ini cukup berpengaruh pada masyarakat secara umum, apalagi disebut bahwa penulisan sejarah Islam baru dilakukan pada masa Daulah Abbasiyah sebagaimana disebut Muhibbuddin al-Khatib, sehingga manusia secara umum kesulitan untuk membanggakan tokoh-tokoh Daulah Umawiyah dan kejayaan yang sudah dicapai masa Umawiyah [3].
Namun kondisi umum ini menjadi cobaan bagi para pemerhati, pegiat, dan penulis Sejarah Islam untuk berpikir bijak, jernih, dan berlaku adil dalam melihat sejarah Daulah Umawiyah meski kondisi tidak selalu menguntungkan untuk menilai dengan adil. Karena itu dengan sendirinya terjadi pengelompokan dengan bermunculannya tipe-tipe penulisan sejarah Umawiyah dari yang berlaku adil dalam menilai, dari yang mencari kepuasan materi dengan mencela Umawiyah atau dari pihak yang meyakini bahwa pencelaan terhadapa Daulah Umawiyah adalah bagian dari agama.

3. Orang Awam
Orang awam mewakili banyak manusia, mereka hanya memahami sejarah Daulah Umawiyah berdasarkan apa yang mereka dengar, apa yang mereka baca, dan apa yang dituliskan oleh orang. Mereka belum bisa membedakan antara madu dan racun. Mana itu kesalahan, mana itu kekhilafan, mana itu ijtihad dsb. Mereka terombang-ambing dengan pusaran ombak yang ada kala itu, mereka belum menyelamatkan diri hingga tenggelam dalam ganasnya gelombang yang menghantam mereka.
Masyarakat umum dari dulu hingga sekarang terombang-ambing dengan arus utama yang berkembang di setiap masa, salah satu arus utama yang berkembang ketika masa awal penulisan sejarah Islam adalah arus Syi’ah yang memiliki ciri khas khusus yang berpengaruh pada masannya.
Arus ini sedikit banyak mempengaruhi persepsi masyarakat kala, lihat saja bagaimana distorsi sejarah mempengaruhi pandangan penduduk Irak hingga mereka sangat mencintai Ali dan membenci Muawiyah yang mereka wariskan kepada anak-cucu mereka. Kebalikannya, lihat pula bagaimana penduduk Syam sangat mencintai Muawiyah dan membenci Ali dan pendukungnya. Lihat saja sebab terbunuhnya Imam an-Nasāȋ (w. 303 H) ketika menuliskan kitabnya : Khaṣāiṣ Amir al-Mukmȋnȋn Ali bin Abi Thalib. Alasan penulisan buku itu sebagaimana ia katakan sendiri: Saya masuk ke Damaskus dan yang menyimpang dari (kecintaan) terhadap Ali jumlahnya banyak, maka saya menuliskan kitab (Khaṣāiṣ) dengan harapan agar mereka mendapatkan hidayah Allah[4] .
Namun, harga yang dibayarkan rupanya sangat mahal hingga ia dipukuli di Damaskus dan dibawa ke Ramallah hingga meninggal di tempat tersebut sebagaimana disebut aż-Żahabȋ[5].
Pengaruh itu masih terasa sampai sekarang, silahkan dicek tulisan sejarawan Syiah yang masih cukup mewarnai karya sejarawan masa kini.
Orientalisme pun yang kemudian menghegemoni penulisan sejarah Islam pasti akan mengambil banyak tulisan sejarawan Syiah dengan “polesan modern”.
Mari kita lihat apa yang terjadi, silahkan Anda tanya secara acak kepada remaja Muslim seusia SMA tentang Muawiyah dan Amru bin Ash. Penulis yakin jawabannya akan lari kepada dua hal: tidak tahu atau mencela keduanya karena dianggap haus kekuasaan. Penulis yakin akan sulit mendapatkan jawaban bahwa keduanya harus dihormati sebagai shahabat Rasulullah.
Karena hal itu pula jarang orang awam jarang yang bisa selamat dari sejarah yang terdistorsi ini, tak heran jika Sufyān aṡ-Ṡaurȋ (w. 161 H)  mengatakan bahwa “Tidak akan bertemu kecintaan terhadap Ali dan Uṡmān kecuali ulama terpilih[6] ”. Penulis menyebutkan ini karena mustahil seorang pemerhati sejarah Daulah Umawiyah akan memahami masalah dengan baik tanpa memahami rentetan peristiwa yang terjadi  masa Usman dan Ali, karena peristiwa masa keduanya mempengaruhi berdirinya Daulah Umawiyah. Tak heran semua penulis yang menulis sejarah Umawiyah –sepengetahuan penulis- pasti akan memberikan gambaran peristiwa masa Usman dan Ali.

4. Orang baik yang mengandalkan perasaannya
Jenis terakhir ini memusuhi Daulah Umawiyah karena keprihatinan mereka yang mendalam atas apa yang terjadi pada umat Islam, dari berpindahnya sistem syura pada masa Khulafa ar-Rasyidin menjadi sistem pewarisan kekuasaan masa Daulah Umawiyah. Mereka prihatin dengan musibah yang menimba ahlu al-bait, penyerangan Madinah masa Yazid yang menimbulkan peperangan di haram yang mulia, bencana yang menimba Makkah dari penyerangan Hajjaj kepada Abdullah bin Zubair, musibah yang menimba keluarga Zubair, dan kekejaman sebagian gubernur Umawiyah.
Mereka mengandalkan perasaannya tanpa bisa melihat dengan jernih berdasarkan sudut pandang syar’i akan masalah yang terjadi pada fase Umawiyah, mereka sulit untuk membedakan motif satu pihak dan motif pihak yang lain lagi. Apatah lagi jika terkait dengan ahlu al-bait atau keluarga shahabat terkemuka. Jika emosi mengalahkan logika, anda tidak akan tahu kemana anda akan melangkah.

Semua pihak yang disebutkan di atas berbicara atau menulis tentang Daulah Umawiyah tanpa bisa membedakan sebab, motif, latar belakang, hakekat perselisihan, hakekat ijtihad yang diambil, proporsi jasa, proporsi kelemahan dan sisi-sisi lain dari sejarah Umawiyah. Akhirnya, mereka terpancing untuk melemparkan isu tentang sejarah fase ini tanpa penelitian, tanpa analisa, tanpa klarifikasi sehingga arus besar yang tersebar dianggap menjadi fakta yang terbantahkan. Layak dikatakan bahwa sejarah Daulah Umawiyah sudah terzalimi dan sudah tidak adil dan proporsional lagi, menjadi kewajiban umat untu bangkit dan mengetahui dengan benar hakekat sejarahnya karena sejarah ini bukan hanya menjadi masa lalu umat, namun menjadi masa kini karena menerangi jalannya umat dengan pengalaman yang diberikan, dan akan menjadi masa depan karena menjadi modal bagi jalannya umat kelak.
Wallahua’lam.

                       Ngangkruk, 13 Jumadi al-Akhir 1440/17 Februari 2019 pkl. 16.47 WIB.


            [1] Dikembangkan dari prolog Mahmud Syakir dalam at-Tarikh al-Islami, al-Ahd al-Umawi, (Beirut: Maktab al-Islami, Cet. 7, 1421 H), hlm. 3-4.
               [2] Usman al-Khamis, Hiqbah min at-Tarikh, (Kairo: Maktabah al-Imam al-Bukhari. Cet. 4, 1429 H), hlm. 180. Al-Khamis menambahkan bahwa Syiah menjadi sebuah entitas akidah dan fiqh baru terjadi belakangan setelah runtuhnya Daulah Umawiyah.  
               [3] Ibnu al-Arabi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibbduddin al-Khatib, (Kairo: Matba’ah Salafiyah, Cet. 4, 1396 M), hlm. 177.
                [4] Aż-Żahabȋ, Siyar A’lām an-Nubalā Jilid XI, Taḥqȋq Khairi Sa’ȋd, (Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, Tanpa Tahun), hlm. 203.
                [5] Ibid, hlm. 205.
                [6] Aż-Żahabȋ, Siyar A’lām an-Nubalā Jilid VII, Taḥqȋq Khairi Sa’ȋd, (Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, Tanpa Tahun), hlm. 273.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...