Selasa, 19 Februari 2019

Tipologi Sejarawan Menyikapi Daulah Umawiyah[1]



Prolog
Bagi pemerhati Sejarah Islam yang adil, ia pasti akan melihat bahwa Sejarah Daulah Umawiyah telah terdistorsi, pelaku sejarahnya terzalimi oleh berbagai pihak. Menjadi kewajiban thalib al-ilmi untuk bisa mempelajari, meneliti, memahami, menyingkap tabir, dan menjelaskan kepada umat tentang hakekat sebenarnya dari fase sejarah yang sudah kadung tercemar ini.
Tulisan ini akan mengupas pandangan seorang alim, sejarawan, pejuang, jurnalis yang tersohor pada masanya yaitu Muhibbuddin al-Khatib (1303-1389 H) yang lahir di Damaskus dan kemudian diwafatkan di Kairo Mesir.

Isi
Muhibbuddin Al-Khatib rahimahullah mengatakan:
Sejarah Islam baru dituliskan masa Daulah Abbasiyah, hal itu menjadikan manusia sulit untuk menceritakan kejayaan masa lalu masa Umawiyah dan kegemilangan pelaku sejarah masa itu. Karena itu sejarah Islam dituliskan oleh tiga kelompok:
1. Pengejar dunia, mereka mencari kehidupan dengan mendekati pihak yang membenci Daulah Umawiyah dengan tulisan mereka[2].
2. Pihak yang meyakini bahwa agama mereka tidak sempurna kecuali dengan mencemarkan nama baik Abu Bakar, Umar, Usman, Usman, dan Bani Abdu Syams[3] (Bani Umayyah masuk disini) secara keseluruhan[4]. 
3. Orang yang agamis dan adil, seperti ath-Thabari[5] (310 H), Ibnu Asakir[6] (571 H), Ibnu al-Atsir[7] (630 H), dan Ibnu Katsir[8] (774 H).
Pihak ini memandang bahwa termasuk dari sikap adil dan netral adalah mengumpulkan semua riwayat dari para sejarawan dari setiap madzhab dan latar belakang seperti Abu Mikhnaf Luth bin Yahya[9] (157 H) yang fanatik, dan Saif bin Umar at-Tamimi[10] (180 H) yang pertengahan, bisa jadi sebagian orang terpaksa harus memuaskan pihak yang lebih kuat kuat dan lebih tinggi posisinya.
Pihak ini menyebutkan para perawi riwayat yang mereka sampaikan agar peneliti tahu setiap kabar dari pengetahuan akan perawi tersebut.
Warisan ini sampai kepada kita bukan sebagai sejarah kita, namun sebagai bahan kaya untuk dipelajari dan diteliti hingga menjadi sejarah kita. Hal ini memungkinkan dan mudah bagi yang mengetahui titik kekuatan dan titik lemah dari referensi ini.
Kemahiran tersebut akan menjadikannya tahu hakekat peristiwa sebenarnya dan menjauhkan yang selainnya dengan mencukupkan diri dari pokok peristiwa yang benar dengan membersihkannya dari tambahan yang datang terkemudian.
Kembali kepada kitab hadist dan pengamatan ulama umat akan memudahkan tugas ini, telah datang waktu yang tepat bagi kita melaksanakan tugas ini setelah parahnya kelambanan kita selama ini.
Orang pertama yang menginsafi intrik terhadap sejarah Umawiyah adalah seorang alim India, Muhammad Syibli an-Nu’mani[11] ketika mengkritik buku George Zidan[12] (1861-1914), kemudian para cendekiawan yang adil mulai mempelajari hakekat ini hingga menjadi cerah dan terang. Tidak mustahil jika hal ini terus berlangsung, akan berubah pemahaman umat akan sejarah mereka dan mereka tahu rahasia kemukjizatan yang ada pada sejarah mereka. Selesai.  

Ngangkruk, 14 Jumadi al-Akhir 1440/17 Februari 2019 pkl. 20.58 WIB.



[1] Ibnu al-Arabi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibbuddin al-Khatib, (Kairo: Matba’ah Salafiyah, Cet. 4, 1396 M), hlm. 177.
[2] Pihak ini menuliskan celaan berdasarkan kepentingan mereka yang sesaat. Kepentingan tersebut bisa saja harta, atau kedudukan tinggi di mata orang atau suatu kaum tertentu. Yang mereka kejar hanyalah keuntungan pribadi mereka sendiri.
[3] Bani Umayyah masuk disini, karena Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah ayahnya.
[4] Terutama yang dimaksud adalah Syiah, karena menganggap kafirnya mayoritas shahabat kecuali beberapa orang dari mereka. Syiah juga memiliki metode kesejarahan yang berbeda dengan tokoh-tokohnya seperti Abu Mikhnaf Luth bin Yahya, Awanah bin Hakam, Abu al-Faraj al-Ashfahani penulis al-Aghany, Hisyam al-Kalbi, Muhammad bin Hisyam al-Kalbi dan lainya.
[5] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari dari Thabaristan di Iran sekarang, alim masyhur, sejarawan, faqih, mufassir. Karya terbesarnya dalam bidang Sejarah Islam adalah Tarikh al-Umam wa al-Mulk yang kemudian dikenal dengan Tarikh Thabari.
[6] Tsiqat ad-Din Abu al-Hasan Ali bin Hasan bin Asakir ad-Dimasyqi, seorang sejarawan yang menonjol. Karya besarnya dalam sejarah Islam adalah Tarikh Baghdad.
[7] Izz ad-Din Abu al-Hasan Ali bin Atsir al-Jazari, karya besarnya dalam sejarah Islam adalah al-Kamil fi at-Tarikh. Ia adalah saudara muda Ibnu Athir yang tertua, yaitu Majd ad-Din yang terkenal dengan karyanya di bidang Bahasa Arab, sedangkan yang termuda adalah Dhiya ad-Din yang terkenal dengan karyanya dalam hadist, diantaranya adalah an-Nihayah fi Gharib al-Hadist.
[8] Imamuddin Abu al-Fida Ismail bin Katsir ad-Dimasyqi, seorang alim dalam hadist, tafsir, sejarah Islam dan lainnya. Ia termasuk dari murid Ibnu Tamiyah yang tersohor. Karya masyhurnya diantaranya: Tafsir al-Qur’an al-Adzim yang kemudian masyhur dengan Tafsir Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah dalam sejarah Islam, Ikhtisar Ulum al-Hadist dalam hadist dan lainnya.
[9] Al-Kufi al-Azdi, tulisannya banyak tentang sejarah Islam awal. Ibnu Adi mengatakan tentangny: Orang Syiah yang fanatik dan penulis sejarah mereka. Dzahabi mengatakan tentangnya: Abu Mikhnaf Luth bin Yahya adalah sejarawan yang rusak, tidak dianggap tsiqat, ditinggalkan oleh Abu Hatim dan lainnya. Untuk lebih luas lihat karya Dr. Yahya bin Ibrahim Yahya, Marwiyyat Abi Mikhnaf fi Tarikh ath-Thabari yang pada asalnya adalah tesisnya di Jami;ah Islamiah di bawah bimbingan Akram Dhiya’ al-Umari. 
[10] Al-Barjami, dikatakan a-Sa’di adh-Dhabbi. Ibnu Hajar (Tqarib at-Tahdzib,, 1/344) mengatakan tentangnya: dhaif  di hadist, menjadi pegangan dalam sejarah. Abu Hatim (mengatakan: matruk (ditinggalkan riwayat hadistnya), hadistnya seperti hadistnya Waqidi.
[11] Seorang alim yang masyhur dari India, ia dilahirkan di Uttar Pradesh India sekarang pada 3 Juni 1857 dan wafat 18 Nopember 1914. Beberapa karya yang ia hasilkan diantara: al-Intiqad ‘ala Tarikh Tamaddun al-Islami li al-Fadhil Jurji Zaidan (Kritik terhadap Sejarah Peradaban Islam) milik George Zidan, Sirah ar-Rasul (belum selesai, kelak akan diselesaikan Abu al-Hasan an-Nadawi), Sirah Faruq.. Ia mengatakan dalam mukaddimah bukunya al-Intiqad:
Sungguh masa adalah tempat keajaiban, dan salah satu keajaibannya adalah seorang dari masa ini (George Zidan) menulis tentang sejarah peradaban Islam yang banyak mengandung distorsi, pengaburan kebatilan (menjadi kebenaran), pemutarbalikan hikayat, khianat dalam penukilan, kesengajaan berdusta yang sudah melampaui batas. Buku ini diedarkan di Mesir, padahal ia adalah wajah negeri-negeri, kubahnya Islam, dan tempat tumbuhnya ilmu hingga kemudian buku ini tersebar di antara negeri Arab dan Ajam. Meski demikian, yang sangat mengherankan adalah tidak ada seorang pun yang menginsafi penuhnya buku ini dari intrik”.     
Syibli an-Nu’mani, Intiqad Tarikh Tamaddun al-Islami,  (Cetakan India, 1912 M), hlm. 1.
[12] George Zidan, orientalis, penulis, jurnalis, dan editor terkenal dari Libanon. Karyanya menunjukkan kebenciannya kepada Islam dan kaum muslimin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...