Prolog
Bagi pemerhati Sejarah Islam yang adil, ia pasti akan
melihat bahwa Sejarah Daulah Umawiyah telah terdistorsi, pelaku sejarahnya
terzalimi oleh berbagai pihak. Menjadi kewajiban thalib al-ilmi untuk
bisa mempelajari, meneliti, memahami, menyingkap tabir, dan menjelaskan kepada
umat tentang hakekat sebenarnya dari fase sejarah yang sudah kadung tercemar
ini.
Tulisan ini akan mengupas pandangan seorang alim,
sejarawan, pejuang, jurnalis yang tersohor pada masanya yaitu Muhibbuddin
al-Khatib (1303-1389 H) yang lahir di Damaskus dan kemudian diwafatkan di Kairo
Mesir.
Isi
Muhibbuddin Al-Khatib rahimahullah mengatakan:
Sejarah Islam baru dituliskan masa Daulah Abbasiyah, hal
itu menjadikan manusia sulit untuk menceritakan kejayaan masa lalu masa
Umawiyah dan kegemilangan pelaku sejarah masa itu. Karena itu sejarah Islam
dituliskan oleh tiga kelompok:
1. Pengejar dunia, mereka mencari kehidupan dengan
mendekati pihak yang membenci Daulah Umawiyah dengan tulisan mereka[2].
2. Pihak yang meyakini bahwa agama mereka tidak sempurna
kecuali dengan mencemarkan nama baik Abu Bakar, Umar, Usman, Usman, dan Bani
Abdu Syams[3] (Bani Umayyah masuk
disini) secara keseluruhan[4].
3. Orang yang agamis dan adil, seperti ath-Thabari[5] (310 H), Ibnu Asakir[6] (571 H), Ibnu al-Atsir[7] (630 H), dan Ibnu Katsir[8] (774 H).
Pihak ini memandang bahwa termasuk dari sikap adil dan
netral adalah mengumpulkan semua riwayat dari para sejarawan dari setiap
madzhab dan latar belakang seperti Abu Mikhnaf Luth bin Yahya[9] (157 H) yang fanatik, dan
Saif bin Umar at-Tamimi[10] (180 H) yang pertengahan,
bisa jadi sebagian orang terpaksa harus memuaskan pihak yang lebih kuat kuat
dan lebih tinggi posisinya.
Pihak ini menyebutkan para perawi riwayat yang mereka sampaikan
agar peneliti tahu setiap kabar dari pengetahuan akan perawi tersebut.
Warisan ini sampai kepada kita bukan
sebagai sejarah kita, namun sebagai bahan kaya untuk dipelajari dan diteliti
hingga menjadi sejarah kita. Hal ini memungkinkan dan mudah bagi yang mengetahui
titik kekuatan dan titik lemah dari referensi ini.
Kemahiran tersebut akan menjadikannya tahu hakekat
peristiwa sebenarnya dan menjauhkan yang selainnya dengan mencukupkan diri dari
pokok peristiwa yang benar dengan membersihkannya dari tambahan yang datang
terkemudian.
Kembali kepada kitab hadist dan pengamatan ulama umat
akan memudahkan tugas ini, telah datang waktu yang tepat bagi kita melaksanakan
tugas ini setelah parahnya kelambanan kita selama ini.
Orang pertama yang menginsafi intrik terhadap sejarah
Umawiyah adalah seorang alim India, Muhammad Syibli an-Nu’mani[11] ketika mengkritik buku George
Zidan[12] (1861-1914), kemudian
para cendekiawan yang adil mulai mempelajari hakekat ini hingga menjadi cerah
dan terang. Tidak mustahil jika hal ini terus berlangsung, akan berubah
pemahaman umat akan sejarah mereka dan mereka tahu rahasia kemukjizatan yang
ada pada sejarah mereka. Selesai.
Ngangkruk, 14 Jumadi al-Akhir 1440/17 Februari 2019 pkl.
20.58 WIB.
[1] Ibnu al-Arabi, al-Awashim min al-Qawashim,
tahqiq Muhibbuddin al-Khatib, (Kairo: Matba’ah Salafiyah, Cet. 4, 1396
M), hlm. 177.
[2] Pihak ini menuliskan
celaan berdasarkan kepentingan mereka yang sesaat. Kepentingan tersebut bisa
saja harta, atau kedudukan tinggi di mata orang atau suatu kaum tertentu. Yang
mereka kejar hanyalah keuntungan pribadi mereka sendiri.
[4] Terutama yang dimaksud adalah Syiah, karena
menganggap kafirnya mayoritas shahabat kecuali beberapa orang dari mereka.
Syiah juga memiliki metode kesejarahan yang berbeda dengan tokoh-tokohnya
seperti Abu Mikhnaf Luth bin Yahya, Awanah bin Hakam, Abu al-Faraj al-Ashfahani
penulis al-Aghany, Hisyam al-Kalbi, Muhammad bin Hisyam al-Kalbi dan
lainya.
[5] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari
dari Thabaristan di Iran sekarang, alim masyhur, sejarawan, faqih, mufassir.
Karya terbesarnya dalam bidang Sejarah Islam adalah Tarikh al-Umam wa al-Mulk
yang kemudian dikenal dengan Tarikh Thabari.
[6] Tsiqat ad-Din Abu al-Hasan Ali bin Hasan bin
Asakir ad-Dimasyqi, seorang sejarawan yang menonjol. Karya besarnya dalam
sejarah Islam adalah Tarikh Baghdad.
[7] Izz ad-Din Abu al-Hasan Ali bin Atsir
al-Jazari, karya besarnya dalam sejarah Islam adalah al-Kamil fi at-Tarikh. Ia
adalah saudara muda Ibnu Athir yang tertua, yaitu Majd ad-Din yang terkenal
dengan karyanya di bidang Bahasa Arab, sedangkan yang termuda adalah Dhiya
ad-Din yang terkenal dengan karyanya dalam hadist, diantaranya adalah an-Nihayah
fi Gharib al-Hadist.
[8] Imamuddin Abu al-Fida Ismail bin Katsir
ad-Dimasyqi, seorang alim dalam hadist, tafsir, sejarah Islam dan lainnya. Ia
termasuk dari murid Ibnu Tamiyah yang tersohor. Karya masyhurnya diantaranya:
Tafsir al-Qur’an al-Adzim yang kemudian masyhur dengan Tafsir Ibnu Katsir, al-Bidayah
wa an-Nihayah dalam sejarah Islam, Ikhtisar Ulum al-Hadist dalam
hadist dan lainnya.
[9] Al-Kufi al-Azdi, tulisannya banyak tentang
sejarah Islam awal. Ibnu Adi mengatakan tentangny: Orang Syiah yang fanatik dan
penulis sejarah mereka. Dzahabi mengatakan tentangnya: Abu Mikhnaf Luth bin
Yahya adalah sejarawan yang rusak, tidak dianggap tsiqat, ditinggalkan
oleh Abu Hatim dan lainnya. Untuk lebih luas lihat karya Dr. Yahya bin Ibrahim
Yahya, Marwiyyat Abi Mikhnaf fi Tarikh ath-Thabari yang pada asalnya
adalah tesisnya di Jami;ah Islamiah di bawah bimbingan Akram Dhiya’
al-Umari.
[10] Al-Barjami, dikatakan a-Sa’di adh-Dhabbi.
Ibnu Hajar (Tqarib at-Tahdzib,, 1/344) mengatakan tentangnya: dhaif di hadist, menjadi pegangan dalam sejarah. Abu
Hatim (mengatakan: matruk (ditinggalkan riwayat hadistnya), hadistnya
seperti hadistnya Waqidi.
[11] Seorang alim yang masyhur dari India, ia
dilahirkan di Uttar Pradesh India sekarang pada 3 Juni 1857 dan wafat 18
Nopember 1914. Beberapa karya yang ia hasilkan diantara: al-Intiqad ‘ala
Tarikh Tamaddun al-Islami li al-Fadhil Jurji Zaidan (Kritik terhadap
Sejarah Peradaban Islam) milik George Zidan, Sirah ar-Rasul (belum
selesai, kelak akan diselesaikan Abu al-Hasan an-Nadawi), Sirah Faruq..
Ia mengatakan dalam mukaddimah bukunya al-Intiqad:
“Sungguh masa adalah
tempat keajaiban, dan salah satu keajaibannya adalah seorang dari masa ini
(George Zidan) menulis tentang sejarah peradaban Islam yang banyak mengandung
distorsi, pengaburan kebatilan (menjadi kebenaran), pemutarbalikan hikayat,
khianat dalam penukilan, kesengajaan berdusta yang sudah melampaui batas. Buku
ini diedarkan di Mesir, padahal ia adalah wajah negeri-negeri, kubahnya Islam,
dan tempat tumbuhnya ilmu hingga kemudian buku ini tersebar di antara negeri
Arab dan Ajam. Meski demikian, yang sangat mengherankan adalah tidak ada
seorang pun yang menginsafi penuhnya buku ini dari intrik”.
Syibli an-Nu’mani, Intiqad
Tarikh Tamaddun al-Islami, (Cetakan
India, 1912 M), hlm. 1.
[12] George Zidan, orientalis,
penulis, jurnalis, dan editor terkenal dari Libanon. Karyanya menunjukkan
kebenciannya kepada Islam dan kaum muslimin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar