Jami' Umawi di Damaskus
gambar dari rorolia wordpress
Muhibbuddin al-Khatib adalah seorang penulis, jurnalis, alim yang memiliki
semangat besar untuk mengenal umat Islam dengan masa lalunya yang gemilang.
Perjalanan ilmiyahnya sekali waktu mengantarkannya
menuntut ilmu di Fakultas Hukum salah satu Universitas di Istanbul masa
kekuasaan Sultan Abdul Hamid II (1876-1909 M).
Ia menceritakan pengalamannya bertemun dengan temannya Syiah, berikut
penuturannya[1].
Kami ketika masih belajar di Konstantinopel[2] dalam
satu majlis diantara para pelajar[3] yang
sedang membahas tema perjalanan hidup Muawiyah dan kekhilafahannya. Kala itu
masa kekuasaan Sultan Abdul Hamid (II). Kemudian, berdirilah Abdul Karim Qasim
Khalil –seorang Syiah- dan mengatakan: “Kalian menyebut sultan kami dengan
khalifah, aku saudara kalian Syi’ah mengumumkan bahwa Yazid bin Muawiyah (60-64
H) dengan perjalanan hidupnya yang baik lebih berhak menjadi khalifah dan lebih
jujur dalam mengamalkan syariat Muhammad shallallahualaihiwasallam- daripada
khalifah kami, apalagi ayahnya, Muawiyah (41-60)!”.
Penulis –semoga Allah mengampuninya- mengatakan:
Orang Syi’ah ini jujur dan benar dalam masalah ini, terlepas kekurangan
yang ada pada Yazid –semoga Allah mengampuninya-, ia adalah salah satu pemimpin
umat ini yang lebih baik dibandingkan para pemimpin Syi’ah.
Tentu saja hal itu tidak bisa dibandingkan dengan ayahnya, Muawiyah yang
dikatakan sebaik-baik raja dalam Islam dengan persaksian umat Islam dan
ulamanya.
Wallahua’lam
Ngangkruk, Ahad, 20 Jumada
al-Akhir 1440 H/24 Februari 2019 M pkl. 10.56 WIB.
[3] Al-Khatib pernah kuliah di Konstantinopel namun
tidak selesai, hal itu dikarenakan usahanya untuk menyadarkan bangsa Arab
dengan tradisinya, namun jangan disangka yang ia seru adalah paham kebangsaan
yang sempit yang dicela agama, namun lebih dari itu ia mengajak mereka untuk
menghargai tradisinya sebagai Muslim dan orang Arab karena Arab dimuliakan
karena keislamannya. Ia mengadakan diskusi berbagai tema, kursus Nahwu,
membahas tema dalam beberapa majalah berbahasa Arab yang diterbitkan di Mesir
dan lainnya. Rupanya hal itu tidak disukai oleh Turki Usmani sehingga ia harus
pulang ke kampung halamannya di Damaskus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar