Jumat, 01 Maret 2019

Al-Khatib (1389 H), Seorang Syiah dan Sikapnya terhadap Muawiyah –radhiyallahuanhu-


Jami' Umawi di Damaskus
gambar dari rorolia wordpress


Muhibbuddin al-Khatib adalah seorang penulis, jurnalis, alim yang memiliki semangat besar untuk mengenal umat Islam dengan masa lalunya yang gemilang. Perjalanan ilmiyahnya sekali waktu  mengantarkannya menuntut ilmu di Fakultas Hukum salah satu Universitas di Istanbul masa kekuasaan Sultan Abdul Hamid II (1876-1909 M).
Ia menceritakan pengalamannya bertemun dengan temannya Syiah, berikut penuturannya[1].
Kami ketika masih belajar di Konstantinopel[2] dalam satu majlis diantara para pelajar[3] yang sedang membahas tema perjalanan hidup Muawiyah dan kekhilafahannya. Kala itu masa kekuasaan Sultan Abdul Hamid (II). Kemudian, berdirilah Abdul Karim Qasim Khalil –seorang Syiah- dan mengatakan: “Kalian menyebut sultan kami dengan khalifah, aku saudara kalian Syi’ah mengumumkan bahwa Yazid bin Muawiyah (60-64 H) dengan perjalanan hidupnya yang baik lebih berhak menjadi khalifah dan lebih jujur dalam mengamalkan syariat Muhammad shallallahualaihiwasallam- daripada khalifah kami, apalagi ayahnya, Muawiyah (41-60)!”.

Penulis –semoga Allah mengampuninya- mengatakan:
Orang Syi’ah ini jujur dan benar dalam masalah ini, terlepas kekurangan yang ada pada Yazid –semoga Allah mengampuninya-, ia adalah salah satu pemimpin umat ini yang lebih baik dibandingkan para pemimpin Syi’ah.
Tentu saja hal itu tidak bisa dibandingkan dengan ayahnya, Muawiyah yang dikatakan sebaik-baik raja dalam Islam dengan persaksian umat Islam dan ulamanya.
Wallahua’lam

Ngangkruk, Ahad, 20 Jumada al-Akhir 1440 H/24 Februari 2019 M pkl. 10.56 WIB.



                [1]  Ibnu al-Arabi al-Andalusi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibuddin al-Khatib, (Kairo: Maktabah Salafiyah, Cet. 2, 1396 H), hlm. 208.
                [2] Ibukota Turki Usmani kala itu, terkadang disebut Istanbul, terkadang literatur Arab masa itu menyebutnya dengan Astana. Tentu saja beda dengan Astana yang menjadi ibukota Kazakhstan sekarang.
                [3] Al-Khatib pernah kuliah di Konstantinopel namun tidak selesai, hal itu dikarenakan usahanya untuk menyadarkan bangsa Arab dengan tradisinya, namun jangan disangka yang ia seru adalah paham kebangsaan yang sempit yang dicela agama, namun lebih dari itu ia mengajak mereka untuk menghargai tradisinya sebagai Muslim dan orang Arab karena Arab dimuliakan karena keislamannya. Ia mengadakan diskusi berbagai tema, kursus Nahwu, membahas tema dalam beberapa majalah berbahasa Arab yang diterbitkan di Mesir dan lainnya. Rupanya hal itu tidak disukai oleh Turki Usmani sehingga ia harus pulang ke kampung halamannya di Damaskus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...