Jumat, 01 Maret 2019

Sastra dan Distorsi Sejarah; Sebuah Pengantar



Sastra dan Distorsi Sejarah; Sebuah Pengantar
Dr. Abd al-Adzim Mahmud ad-Daib[1]


Prolog Penerjemah
Distorsi terjadi dalam banyak bidang, salah satunya di sejarah Islam. Secara makna bahasa distorsi berasal dari kalimat verbal bahasa Inggris distort yang bermakna:
1) twist out of a proper or natural shape,
2) to alter misleadingly,
3) to reproduce (sound) improperly[2].
Dalam pengertian lain dijelaskan bahwa distorsi adalah
4) to tell people about a fact, statement etc. in a way that changes its meaning[3]
Dalam bahasa sederhana, distorsi bermakna proses yang dilakukan untuk mengubah bentuk atau makna kabar berita yang disampaikan, dari referensi pertama terkesan perubahan tersebut terjadi secara umum dari bentuk asli yang benar dan natural. Dari referensi kedua terkesan bahwa fakta yang disampaikan dirubah sehingga terjadi perubahan makna dari makna fakta asal.
Dalam bahasa Arab yang dianggap sebagai padanan katanya adalah taḥrȋf, mengingat jamaknya penggunaan istilah ini untuk menggambarkan penyelewengan kata dan makna.
Kata taḥrȋf dalam al-Qur’an tersebut sebanyak empat kali, semuanya disebutkan dalam bentuk fi’il muḍảri’ dari kalimat ini yaitu يُحَرَّفُونَ sebanyak tiga kali di An-Nisa (4:46), al-Maidah (5:13) dan (5:41) serta bentuk يُحَرَّفُونَه sekali saja dalam Al-Baqarah (2:75)[4].
Secara etimologis taḥrȋf berarti mencondongkan atau memiringkan[5]. Menurut istilah berarti menggantinya dan mengubah maknanya[6].
Sehingga bisa dikatakan bahwa makna taḥrȋf adalah usaha untuk menyelewengkan data baik mengubah kata atau mengubah makna[7]. Pembahasan tentang taḥrȋf ini terutama banyak dibahas para ulama ketika membicarakan masalah aqidah, karena taḥrȋf termasuk penyelewengan yang terjadi dalam aqidah Islam.
Pembahasan tentang taḥrȋf sendiri tidak hanya terjadi dalam masalah aqidah saja, namun mencakup pembahasan kesejarahan Islam juga. Hal ini karena taḥrȋf ini menjadi alat penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh oknum tertentu untuk merusak sejarah Islam.

Pengaruh Sastra dalam Distorsi Sejarah Islam[8]
            Salah satu hal yang aksiomatis dan tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa sastra adalah cerminan masyarakat dan lingkungan dimana sastra tersebut tumbuh, dari sini sastra menjadi salah satu sumber terpenting Sejarah Islam.
Namun, statemen ini tidak bisa dimutlakkan begitu saja, sastra bukanlah bentuk catatan masyarakat dan lingkungan, namun ia seni yang menjelaskan beberapa potongan (peristiwa) yang terjadi di masyarakat dan digubah oleh sastrawan dari dalam dirinya dengan pengaruh dari reaksi dan perasaan dirinya akan sesuatu yang ia gambarkan. Dari sini akan didapati orang yang memuji dan mencela pada waktu yang bersamaan, pada satu hal sama.
Hal ini menjadikan sejarawan yang hendak menjadikan sastra –terlepas jenis satranya- sebagai salah satu referensinya, maka ia harus “betul-betul sadar dan waspada” ketika menganalisa karakteristik masa tertentu dari sastra, ia harus menjangkau keseluruhan karya sastra yang ada pada masa tersebut, kemudian ia harus menafsirkannya berdasarkan apa yang dilakukan dan disembunyikan pelaku sejarah masa tersebut. Ia juga harus menafsirkan “semangat zaman” yang mengarahkan dan menguasai mereka kala itu, tentu saja tanpa melupakan sumber-sumber sejarah lain. Selesai.
Wallahua’lam.

Ngangkruk, Kamis, 25 Jumada al-Akhir 1440 H/29 Februari 2019 M pkl. 17.11 WIB.
      



                [1] Berasal dari Mesir, pernah menjadi dosen dan ketua jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh di Universitas Qatar.
                [2] Peter Davies (ed.), The American Heritage Dictionary of The English Language (New York: Dell Publishing, 1983), hlm. 210.
                [3] Della Summers (director). Longman Active Study Dictionary International Students Edition, (Essex: Pearson Education, 2004), hlm. 190.
                [4] Muhammad Fuad Abdul Bāqȋ, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Ḥadȋṡ. 1428 H), hlm. 242.
                [5] Al-Wajȋz, hlm. 145.
                [6] Ibid, hlm. 145.
                [7] Muhammad bin Ṣāliḥ al-Uṡamȋn, Syarḥ Aqidah al-Wāsiṭiyyah, (Dammām: Dār Ibnu Jauzȋ, Cet. 4, 1427 H), hlm. 57.
                [8] Dari bukunya, Nahwa Ru’yah Jadidah Li at-Tarikh al-Islami; Nadzaraat wa Taswibaat, (Kairo: Dar al-Wafa’, Tt.), 93-94.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...