Sastra dan Distorsi Sejarah; Sebuah Pengantar
Dr. Abd al-Adzim Mahmud ad-Daib[1]
Prolog Penerjemah
Distorsi
terjadi dalam banyak bidang, salah satunya di sejarah Islam. Secara makna bahasa distorsi berasal dari kalimat
verbal bahasa Inggris distort yang bermakna:
1) twist out of a proper or natural shape,
2) to alter misleadingly,
3) to reproduce (sound) improperly[2].
Dalam pengertian lain dijelaskan bahwa distorsi adalah
4) to tell people about a fact, statement etc. in a
way that changes its meaning[3].
Dalam bahasa sederhana, distorsi bermakna proses yang
dilakukan untuk mengubah bentuk atau makna kabar berita yang
disampaikan, dari referensi pertama terkesan perubahan tersebut terjadi secara
umum dari bentuk asli yang benar dan natural. Dari referensi kedua terkesan
bahwa fakta yang disampaikan dirubah sehingga terjadi perubahan makna dari
makna fakta asal.
Dalam bahasa Arab yang dianggap sebagai padanan katanya adalah taḥrȋf,
mengingat jamaknya penggunaan istilah ini untuk menggambarkan penyelewengan
kata dan makna.
Kata taḥrȋf dalam al-Qur’an tersebut sebanyak empat kali, semuanya
disebutkan dalam bentuk fi’il muḍảri’ dari kalimat ini yaitu يُحَرَّفُونَ sebanyak tiga kali di An-Nisa
(4:46), al-Maidah (5:13) dan (5:41) serta bentuk يُحَرَّفُونَه sekali saja dalam Al-Baqarah
(2:75)[4].
Secara etimologis taḥrȋf
berarti mencondongkan atau
memiringkan[5]. Menurut
istilah berarti menggantinya dan mengubah maknanya[6].
Sehingga
bisa dikatakan bahwa makna taḥrȋf adalah usaha untuk menyelewengkan data
baik mengubah kata atau mengubah makna[7].
Pembahasan tentang taḥrȋf ini terutama banyak dibahas para ulama ketika
membicarakan masalah aqidah, karena taḥrȋf termasuk penyelewengan yang
terjadi dalam aqidah Islam.
Pembahasan tentang taḥrȋf
sendiri tidak hanya terjadi dalam masalah aqidah saja, namun mencakup
pembahasan kesejarahan Islam juga. Hal ini karena taḥrȋf ini menjadi
alat penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh oknum tertentu untuk merusak
sejarah Islam.
Pengaruh Sastra dalam Distorsi Sejarah Islam[8]
Salah satu hal yang aksiomatis dan
tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa sastra adalah cerminan masyarakat dan
lingkungan dimana sastra tersebut tumbuh, dari sini sastra menjadi salah satu
sumber terpenting Sejarah Islam.
Namun, statemen
ini tidak bisa dimutlakkan begitu saja, sastra bukanlah bentuk catatan
masyarakat dan lingkungan, namun ia seni yang menjelaskan beberapa potongan
(peristiwa) yang terjadi di masyarakat dan digubah oleh sastrawan dari dalam dirinya
dengan pengaruh dari reaksi dan perasaan dirinya akan sesuatu yang ia
gambarkan. Dari sini akan didapati orang yang memuji dan mencela pada waktu
yang bersamaan, pada satu hal sama.
Hal ini
menjadikan sejarawan yang hendak menjadikan sastra –terlepas jenis satranya- sebagai
salah satu referensinya, maka ia harus “betul-betul sadar dan waspada” ketika
menganalisa karakteristik masa tertentu dari sastra, ia harus menjangkau keseluruhan
karya sastra yang ada pada masa tersebut, kemudian ia harus menafsirkannya
berdasarkan apa yang dilakukan dan disembunyikan pelaku sejarah masa tersebut.
Ia juga harus menafsirkan “semangat zaman” yang mengarahkan dan menguasai
mereka kala itu, tentu saja tanpa melupakan sumber-sumber sejarah lain. Selesai.
Wallahua’lam.
Ngangkruk, Kamis, 25 Jumada al-Akhir 1440 H/29 Februari 2019 M pkl. 17.11 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar