Rabu, 06 Maret 2019

Kontradiksi Khawarij dan Syiah masa Umawiyah*


Wilayah Daulah Umawiyah pada puncak kejayaannya
thethinkingmuslim.com 


Oleh: Mahmud Syakir –rahimahullah-

Mahmud Syakir –rahimahullah- ketika menyebut celaan kepada Daulah Umawiyah karena banyaknya musibah yang menimba Ahl al-Bait mengatakan[1]:
“Jika mereka (Syi’ah) menisbatkan sifat ma’shum kepada imam-imam mereka, bagaimana bisa menolak apa yang dilakukan imam mereka dan tidak tunduk dan patuh kepada mereka? Mereka menepi dan tidak membantu Husain[2], begitu terhadap Zaid[3] setelah mereka menyeru manusia untuk memberontak (kepada Umawiyah) bahkan Syiah kemudian mendukung Umawiyah.
Berdasarkan penelitian terhadap referensi sejarah yang ada, Khawarij mengalami musibah lebih besar dan lebih banyak daripada Ahl al-Bait. Namun perang melawan Khawarij merupakan kebutuhan mendesak bagi Daulah Umawiyah, sehingga pemerintah benar dalam masalah ini.
Adapun perlawanan dari Ahl al-Bait digambarkan bahwa kebenaran berada pada pihak pemberontak dan pemerintah dianggap melakukan kezaliman dan jauh dari penerapan syariat. Bagaimana pemerintah dianggap adil di satu sisi dan dianggap zalim pada sisi yang lain (padahal sama-sama bertujuan menumpas perlawanan)?, (Daulah Umawiyah) menerapkan syariat di satu sisi dan menyelisihinya di sisi lain?
Tuntutan Khawarij adalah kekhilafahan di tangan orang saleh dan penerapan Islam, ini garis besar gerakan mereka meskipun mereka menyelisihi syariat yang dikenal semisal mengkafirkan muslim yang menyelisihi mereka dan mengkafirkan pelaku maksiat (dosa besar) dan menggapnya kekal di neraka.
Adapun tuntutan Syi’ah adalah menuntut ketundukan kepada kekuasaan Ahl al-Bait secara turun-temurun, namun di sisi lain mereka mengkritisi sistem pewarisan kekuasaan jika hal itu bukan pada orang yang mereka seru[4].
Hal ini menjadikan tudingan mengarah kepada pihak tertentu yang memiliki peran besar dalam menuliskan sejarah yang tercemar namun kemudian tersebar luas dan hal itu dianggap sebagai kebenaran[5]. Selesai nukilan.
   



[1] Mahmud Syakir, at-Tarikh al-Islami, al-Ahd al-Umawi, (Beirut: Maktab al-Islami, Cet. 7, 1421 H), hlm. 11.
* Judul ini dari penulis.
[2] Padahal Syi’ah lah yang mengundang Husain datang ke Kufah, namun mereka menyingkir hingga Muslim bin ‘Aqil sebagai utusan Husain ke Kufah terbunuh bahkan Husain terbunuh di tangan tentara Irak di bawah Umar bin Sa’d di Karbala. Mahmud Syakir bahkan memastikan bahwa mayoritas penduduk Kufah yang sebelumnya meminta Husain datang justru kemudian berbalik arah dan bergabung dengan pasukan Umar bin Sa’d, Daulah Umawiyah, hlm. 10.
[3] Zaid bin Ali bin Husain yang kemudian mengadakan perlawanan terhadap Umawiyah masa Hisyam bin Abdul Malik di Kufah tahun 122 H, ia bergerak setelah diminta oleh penduduk Kufah namun segera mereka meninggalkannnya sebagaimana yang sudah mereka lalukan pada kakeknya, Husain dan kakek buyutnya Ali bin Abi Thalib.
[4] Karena itu Dzahabi mengutip Ibnu Taimiyah dalam Mukhtashar Minhaj Sunnah mengatakan:
“...Dalil bisa dalil naqli atau akal, kaum tersebut (Syi’ah) termasuk yang paling banyak dustanya dalam naqliyyat, dan paling bodoh dalam masalah dalil akal, karena itu mereka dianggap sebagai “kelompok terbodoh”, karena itu telah masuk dalam agama berbagai kerusakan yang tidak bisa diketahui jumlahnya kecuali Allah. Nushairiyah dan Ismailiyyah masuk melalui pintu mereka, orang kafir dan murtad tiba dengan jalan mereka hingga mereka menguasai negeri-negeri Islam, menawan wanita, dan menumpahkan darah yang diharamakan”. Dzahabi, Mukhtashar Minhaj Sunnah, tahqiq dan ta’liq Muhibbuddin al-Khatib, (Riyadh:Wikalah Mathbu’ah wa Tarjamah Riasah al-Amah li Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa ad-Dakwah wa al-Irsyad), hlm. 20-21.
[5] Karena itu, Muhibbuddin al-Khatib (1389 H) mengatakan:
Sejarah Islam baru dituliskan masa Daulah Abbasiyah, hal itu menjadikan manusia sulit untuk menceritakan kejayaan masa lalu masa Umawiyah dan kegemilangan pelaku sejarah masa itu. Karena itu sejarah Islam dituliskan oleh tiga kelompok:
1. Pengejar dunia, mereka mencari kehidupan dengan mendekati pihak yang membenci Daulah Umawiyah dengan tulisan mereka.
2. Pihak yang meyakini bahwa agama mereka tidak sempurna kecuali dengan mencemarkan nama baik Abu Bakar, Umar, Usman, Usman, dan Bani Abdu Syams (Bani Umayyah masuk disini) secara keseluruhan. 
3. Orang yang agamis dan adil, seperti ath-Thabari (310 H), Ibnu Asakir (571 H), Ibnu al-Atsir (630 H), dan Ibnu Katsir (774 H).
Pihak ini memandang bahwa termasuk dari sikap adil dan netral adalah mengumpulkan semua riwayat dari para sejarawan dari setiap madzhab dan latar belakang seperti Abu Mikhnaf Luth bin Yahya (157 H) yang fanatik, dan Saif bin Umar at-Tamimi (180 H) yang pertengahan, bisa jadi sebagian orang terpaksa harus memuaskan pihak yang lebih kuat kuat dan lebih tinggi posisinya.
Pihak ini menyebutkan para perawi riwayat yang mereka sampaikan agar peneliti tahu setiap kabar dari pengetahuan akan perawi tersebut.
Warisan ini sampai kepada kita bukan sebagai sejarah kita, namun sebagai bahan kaya untuk dipelajari dan diteliti hingga menjadi sejarah kita. Hal ini memungkinkan dan mudah bagi yang mengetahui titik kekuatan dan titik lemah dari referensi ini”. Ibnu al-Arabi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibbuddin al-Khatib, (Kairo: Matba’ah Salafiyah, Cet. 4, 1396 M), hlm. 177.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...