Wilayah Daulah Umawiyah pada puncak kejayaannya
thethinkingmuslim.com
Oleh: Mahmud Syakir –rahimahullah-
Mahmud
Syakir –rahimahullah- ketika menyebut celaan kepada Daulah Umawiyah
karena banyaknya musibah yang menimba Ahl al-Bait mengatakan[1]:
“Jika mereka
(Syi’ah) menisbatkan sifat ma’shum kepada imam-imam mereka, bagaimana
bisa menolak apa yang dilakukan imam mereka dan tidak tunduk dan patuh kepada
mereka? Mereka menepi dan tidak membantu Husain[2],
begitu terhadap Zaid[3]
setelah mereka menyeru manusia untuk memberontak (kepada Umawiyah) bahkan Syiah
kemudian mendukung Umawiyah.
Berdasarkan
penelitian terhadap referensi sejarah yang ada, Khawarij mengalami musibah
lebih besar dan lebih banyak daripada Ahl al-Bait. Namun perang melawan Khawarij
merupakan kebutuhan mendesak bagi Daulah Umawiyah, sehingga pemerintah benar
dalam masalah ini.
Adapun
perlawanan dari Ahl al-Bait digambarkan bahwa kebenaran berada pada pihak
pemberontak dan pemerintah dianggap melakukan kezaliman dan jauh dari penerapan
syariat. Bagaimana pemerintah dianggap adil di satu sisi dan dianggap zalim
pada sisi yang lain (padahal sama-sama bertujuan menumpas perlawanan)?, (Daulah
Umawiyah) menerapkan syariat di satu sisi dan menyelisihinya di sisi lain?
Tuntutan
Khawarij adalah kekhilafahan di tangan orang saleh dan penerapan Islam, ini
garis besar gerakan mereka meskipun mereka menyelisihi syariat yang dikenal
semisal mengkafirkan muslim yang menyelisihi mereka dan mengkafirkan pelaku
maksiat (dosa besar) dan menggapnya kekal di neraka.
Adapun tuntutan
Syi’ah adalah menuntut ketundukan kepada kekuasaan Ahl al-Bait secara
turun-temurun, namun di sisi lain mereka mengkritisi sistem pewarisan kekuasaan
jika hal itu bukan pada orang yang mereka seru[4].
Hal ini
menjadikan tudingan mengarah kepada pihak tertentu yang memiliki peran besar
dalam menuliskan sejarah yang tercemar namun kemudian tersebar luas dan hal itu dianggap
sebagai kebenaran[5].
Selesai nukilan.
[1] Mahmud Syakir, at-Tarikh al-Islami,
al-Ahd al-Umawi, (Beirut: Maktab al-Islami, Cet. 7, 1421 H), hlm. 11.
[2] Padahal Syi’ah lah yang
mengundang Husain datang ke Kufah, namun mereka menyingkir hingga Muslim bin ‘Aqil
sebagai utusan Husain ke Kufah terbunuh bahkan Husain terbunuh di tangan
tentara Irak di bawah Umar bin Sa’d di Karbala. Mahmud Syakir bahkan memastikan
bahwa mayoritas penduduk Kufah yang sebelumnya meminta Husain datang justru
kemudian berbalik arah dan bergabung dengan pasukan Umar bin Sa’d, Daulah
Umawiyah, hlm. 10.
[3] Zaid bin
Ali bin Husain yang kemudian mengadakan perlawanan terhadap Umawiyah masa
Hisyam bin Abdul Malik di Kufah tahun 122 H, ia bergerak setelah diminta oleh
penduduk Kufah namun segera mereka meninggalkannnya sebagaimana yang sudah
mereka lalukan pada kakeknya, Husain dan kakek buyutnya Ali bin Abi Thalib.
[4] Karena
itu Dzahabi mengutip Ibnu Taimiyah dalam Mukhtashar Minhaj Sunnah mengatakan:
“...Dalil bisa dalil naqli atau akal, kaum tersebut (Syi’ah) termasuk yang
paling banyak dustanya dalam naqliyyat, dan paling bodoh dalam masalah dalil
akal, karena itu mereka dianggap sebagai “kelompok terbodoh”, karena itu telah
masuk dalam agama berbagai kerusakan yang tidak bisa diketahui jumlahnya
kecuali Allah. Nushairiyah dan Ismailiyyah masuk melalui pintu mereka, orang kafir
dan murtad tiba dengan jalan mereka hingga mereka menguasai negeri-negeri
Islam, menawan wanita, dan menumpahkan darah yang diharamakan”. Dzahabi, Mukhtashar Minhaj Sunnah, tahqiq dan ta’liq Muhibbuddin
al-Khatib, (Riyadh:Wikalah Mathbu’ah wa Tarjamah Riasah al-Amah li Idarah
al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa ad-Dakwah wa al-Irsyad), hlm. 20-21.
“Sejarah Islam baru
dituliskan masa Daulah Abbasiyah, hal itu menjadikan manusia sulit untuk
menceritakan kejayaan masa lalu masa Umawiyah dan kegemilangan pelaku sejarah
masa itu. Karena itu sejarah Islam dituliskan oleh tiga kelompok:
1. Pengejar dunia, mereka
mencari kehidupan dengan mendekati pihak yang membenci Daulah Umawiyah dengan
tulisan mereka.
2. Pihak yang meyakini
bahwa agama mereka tidak sempurna kecuali dengan mencemarkan nama baik Abu
Bakar, Umar, Usman, Usman, dan Bani Abdu Syams (Bani Umayyah masuk disini)
secara keseluruhan.
3. Orang yang agamis dan
adil, seperti ath-Thabari (310 H), Ibnu Asakir (571 H), Ibnu al-Atsir (630 H),
dan Ibnu Katsir (774 H).
Pihak ini memandang
bahwa termasuk dari sikap adil dan netral adalah mengumpulkan semua riwayat
dari para sejarawan dari setiap madzhab dan latar belakang seperti Abu Mikhnaf
Luth bin Yahya (157 H)
yang fanatik, dan Saif bin Umar at-Tamimi (180 H) yang pertengahan, bisa jadi
sebagian orang terpaksa harus memuaskan pihak yang lebih kuat kuat dan lebih
tinggi posisinya.
Pihak ini menyebutkan
para perawi riwayat yang mereka sampaikan agar peneliti tahu setiap kabar dari
pengetahuan akan perawi tersebut.
Warisan ini sampai
kepada kita bukan sebagai sejarah kita, namun sebagai bahan kaya untuk
dipelajari dan diteliti hingga menjadi sejarah kita. Hal ini
memungkinkan dan mudah bagi yang mengetahui titik kekuatan dan titik lemah dari
referensi ini”. Ibnu al-Arabi, al-Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibbuddin
al-Khatib, (Kairo: Matba’ah Salafiyah, Cet. 4, 1396 M), hlm. 177.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar