Kamis, 14 Maret 2019

Pintu Masuk Peradaban Islam ke Eropa


Jalur Perdagangan Darat dan Laut antara Islam dengan Eropa
gambar: muslimheritage 


Muhammed al-Arusy al-Matwy[1]
Tersebarnya Islam di luar Jazirah Arab otomatis mengharuskan adanya benturan dengan kekuatan yang berkuasa waktu itu, kekuatan terbesar masa itu adalah Persia di Timur dan Kekaisaran Byzantine di Barat. Islam mampu mengalahkan Persia dengan mudah, hingga negeri-negeri Persia masuk ke dalam wilayah Islam hingga mereka memilki peran yang baik dalam persatuan dan peradaban Islam.
Adapun Byzantine, maka Islam berhasil menguasai wilayah mereka di Asia dan Eropa. Benturan antara Islam dan Byzantine merepresentasikan benturan antara Islam dan Kristen di Afrika, Asia, dan Laut Tengah. Persinggungan di wilayah yang disebutkan di atas juga menjadi jalan masuk peradaban Islam ke Eropa.
Pintu masuk utama bagi Peradaban Islam ke Eropa adalah: 1) Andalus[2], 2) Sisilia di Italia, 3) Perang Salib[3], 4) Jalur Konstantinopel[4], 5) Hubungan Perdagangan antara Timur dan Barat.
Masing-masing jalur ini memiliki peran besar dalam mentransfer Peradaban Islam ke Eropa, jika perang Salib berlangsung selama 2 abad yang menjadikan adanya persinggungan antara Timur dengan Barat, bukan suatu hal yang sembarangan jika dikatakan bahwa Perang Salib salah satu jalur transfer peradaban yang paling menonjol dan paling banyak kuantitasnya dari Islam menuju masyarakat Eropa. Selesai.



[1] Dalam karyanya al-Hurub as-Salibiyah fi al-Masyriq wa al-Maghrib, (Dar al-Gharb al-Islami, Cet. 2, 1982), hlm. 154-155.
[2] Jazirah Iberia, maksudnya Spanyol dan Portugal sekarang. Hal itu karena Islam bertahan di sana selama sekitar 8 abad.
[3] Dulu tidak dikenal dengan istilah ini, namun disebut dengan Serangan Eropa. Belakangan baru disebut dengan Perang Salib karena tentara Kristen menggunakan tanda salib ketika berperang. Terjadi selama lebih dari dua abad, dari serangan pertama mereka tahun 440 H hingga terusirnya mereka selama-lamanya dengan jatuhnya kota Acre, markas terakhir mereka di tangan Asyraf, penguasa Mamalik tahun 690 H.
[4] Istanbul sekarang, dulu kota ini didirikan oleh Constantine, kaisar Romawi pada abad IV dan berhasil dikuasai Turki Usmani pada tahun 1453 M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...