Abd al-Qahir al-Baghdadi mengatakan dalam al-Farqu
bain al-Firaq[1]:
“Rafidhah Kufah memiliki
sifat ghadr (khianat) dan bakhil, hal ini menjadi matsal bagi
mereka dalam dua sifat ini, sampai dikatakan: Lebih bakhil dari penduduk Kufah,
lebih ghadr (khianat), dan pengkhianatan mereka yang termasyhur terdapat
dalam tiga peristiwa:
1. Setelah kematian Ali,
mereka mereka membaiat Hasan, kemudian mengkhianatinya di Saabaath Madain
(ساباط مدائن)[2] hingga
ia ditusuk oleh Sinan al-Ju’fi[3] dengan
menusuknya di lambungnya[4] ketika
Hasan di kudanya, hal itu menjadi salah satu sebab ia berdamai dengan Muawiyah[5].
2. Mengirim surat kepada
Husain dan memintanya datang ke Kufah untuk membantu mereka menyingkirkan
Yazid, hingga Husain terpengaruh dan menuju Kufah, ketika tiba di Karbala,
mereka mengkhianatinya hingga mereka bergabung dengan (pasukan) Ubaidullah bin
Ziyad bersatu melawan Husain hingga ia dan banyak keluarganya terbunuh di
Karbala.
3. Pengkhianatan mereka
terhadap Zaid bin Ali bin Husain[6],
melepaskan diri dari baiat yang sebelumnya mereka berikan pada Zaid dan
kemudian menyerahkannya ketika sengitnya pertempuran. Selesai nukilan.
Ngangkruk, Kamis, 01 Rajab 1440 H/06 Maret Maret 2019 M pkl. 23.01 WIB.
[1] Abd al-Qahir
al-Baghdadi, al-Farqu Bain al-Firaq, tahqiq Muhammad Muhyi ad-Din
Abd al-Hamid, (Kairo: Maktabah Muhammad Ali Shabih wa Auladuhu, Tt.), hlm. 37.
[2] Salah satu nama tempat yang terkenal di
Madain (Ctesiphon), bekas ibukota Persia yang berhasil ditundukkan Sa’d bin Abi
Waqqash pada Shafar 16 H masa Umar bin
Khattab. Menurut bahasa Ajam, Saabaath ini namanya Balas Abad,
dinisbatkan kepada nama orang yang bernama Balas. Lihat Yaqut al-Hamawi, Mu’jam
al-Buldan, (Beirut: Dar ash-Shadir, 1397 H), 3/166.
[3] Demikian
disebut, namun dalam riwayat di Ansab al-Asyraf disebut Jarrah bin Sinan
al-Asadi, ia membawa gancu dan menusuk paha Hasan hingga hampir menembus
tulang, Hasan diselamatkan oleh dua orang; Abdullah bin Khodl ath-Tha’i dan
Dzabiyyan bin Ammarah at-Tamimi hingga Jarrah mati. Baladzuri, Ansab
al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zirikli, (Beirut: Dar
al-Fikr, Tt.), 3/1208. Jika betul Jarrah bin Sinan pelakunya, sungguh ia juga
yang mencela Sa’d bin Abi Waqqash ketika menjabat sebagai gubernur di Kufah
masa Umar hingga dikirim Muhammad bin Maslamah untuk klarifikasi dan kemudian
nampak bersihnya Sa’d. Lihat Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, tahqiq
Abdullah bin Abd al-Muhsin at-Turki,
(Kairo: Hajar, Cet. 1, 1418), 11/112-113 peristiwa tahun 21 H.
[4] Dalam
riwayat di Ansab al-Asyraf di pahanya.
[5] Menurut Khalid
al-Ghaits dalam Marwiyat Khilafah Muawiyah fi Tarikh ath-Thabari,
upaya pembunuhan kedua terhadap Hasan ini terjadi setelah islah antaranya
dengan Muawiyah. Wallahua’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar