Jumat, 08 Maret 2019

Apakah Syi’ah membela Ali dan Keturunannya*



Abd al-Qahir al-Baghdadi mengatakan dalam al-Farqu bain al-Firaq[1]:
“Rafidhah Kufah memiliki sifat ghadr (khianat) dan bakhil, hal ini menjadi matsal bagi mereka dalam dua sifat ini, sampai dikatakan: Lebih bakhil dari penduduk Kufah, lebih ghadr (khianat), dan pengkhianatan mereka yang termasyhur terdapat dalam tiga peristiwa:
1. Setelah kematian Ali, mereka mereka membaiat Hasan, kemudian mengkhianatinya di Saabaath Madain (ساباط مدائن)[2] hingga ia ditusuk oleh Sinan al-Ju’fi[3] dengan menusuknya di lambungnya[4] ketika Hasan di kudanya, hal itu menjadi salah satu sebab ia berdamai dengan Muawiyah[5].
2. Mengirim surat kepada Husain dan memintanya datang ke Kufah untuk membantu mereka menyingkirkan Yazid, hingga Husain terpengaruh dan menuju Kufah, ketika tiba di Karbala, mereka mengkhianatinya hingga mereka bergabung dengan (pasukan) Ubaidullah bin Ziyad bersatu melawan Husain hingga ia dan banyak keluarganya terbunuh di Karbala.
3. Pengkhianatan mereka terhadap Zaid bin Ali bin Husain[6], melepaskan diri dari baiat yang sebelumnya mereka berikan pada Zaid dan kemudian menyerahkannya ketika sengitnya pertempuran. Selesai nukilan.

Ngangkruk, Kamis, 01 Rajab 1440 H/06 Maret Maret 2019 M pkl. 23.01 WIB.



* Judul dari penulis.
[1] Abd al-Qahir al-Baghdadi, al-Farqu Bain al-Firaq, tahqiq Muhammad Muhyi ad-Din Abd al-Hamid, (Kairo: Maktabah Muhammad Ali Shabih wa Auladuhu, Tt.), hlm. 37.
[2] Salah satu nama tempat yang terkenal di Madain (Ctesiphon), bekas ibukota Persia yang berhasil ditundukkan Sa’d bin Abi Waqqash pada Shafar 16 H masa Umar bin  Khattab. Menurut bahasa Ajam, Saabaath ini namanya Balas Abad, dinisbatkan kepada nama orang yang bernama Balas. Lihat Yaqut al-Hamawi, Mu’jam al-Buldan, (Beirut: Dar ash-Shadir, 1397 H), 3/166.
[3] Demikian disebut, namun dalam riwayat di Ansab al-Asyraf disebut Jarrah bin Sinan al-Asadi, ia membawa gancu dan menusuk paha Hasan hingga hampir menembus tulang, Hasan diselamatkan oleh dua orang; Abdullah bin Khodl ath-Tha’i dan Dzabiyyan bin Ammarah at-Tamimi hingga Jarrah mati. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zirikli, (Beirut: Dar al-Fikr, Tt.), 3/1208. Jika betul Jarrah bin Sinan pelakunya, sungguh ia juga yang mencela Sa’d bin Abi Waqqash ketika menjabat sebagai gubernur di Kufah masa Umar hingga dikirim Muhammad bin Maslamah untuk klarifikasi dan kemudian nampak bersihnya Sa’d. Lihat Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, tahqiq  Abdullah bin Abd al-Muhsin at-Turki, (Kairo: Hajar, Cet. 1, 1418), 11/112-113 peristiwa tahun 21 H.
[4] Dalam riwayat di Ansab al-Asyraf di pahanya.
[5] Menurut Khalid al-Ghaits dalam Marwiyat Khilafah Muawiyah fi Tarikh ath-Thabari, upaya pembunuhan kedua terhadap Hasan ini terjadi setelah islah antaranya dengan Muawiyah. Wallahua’lam.
[6] Terjadi tahun 122 H di Kufah masa Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...