Sabtu, 15 Juni 2019

Firasat Ibnu Abbas akan Kekhalifahan Muawiyah




Ibnu Abbas berdalil dengan al-Qur’an untuk menunjukkan kekhalifahan Muawiyah aberdasarkan firman Allah:
وَمَن قُتِلَ مَظۡلُومٗا فَقَدۡ جَعَلۡنَا لِوَلِيِّهِۦ سُلۡطَٰنٗا فَلَا يُسۡرِف فِّي ٱلۡقَتۡلِۖ إِنَّهُۥ كَانَ مَنصُورٗا ٣٣
Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan” (Al-Isra’: 33)
Ibnu Katsir رحمه الله  mengatakan:
Khabrul ummah (alim umat) ini, Ibnu Abbas mengambil keumuman ayat ini sebagai dalil bahwa Muawiyah bahwa ia akan berkuasa, karena ia adalah wali dari Usman bin Affan yang terbunuh secara zalim. Muawiyah  telah meminta kepada Ali bin Abi Thalib untuk menyerahkan pembunuh Usman kepadanya hingga ia menegakkan qisas karena Muawiyah adalah Umawi[1], sedangkan Ali bin Abi Thalib meminta tangguh hingga ia mampu menegakkan qisas[2]. Ali sendirii meminta kepada Muawiyah untuk menyerahkan Syam kepadanya, namun Muawiyah enggan hingga diserahkan para pembunuh Usman kepadanya sebagaimana Muawiyah dan penduduk Syam enggan untuk membaiat Ali , seiring berkepanjangannya perkara ini Muawiyah kemudian berkuasa sebagaimana istinbath Ibnu Abbas  dari ayat ini, dan ini sungguh perkara yang menakjubkan[3]”.




                [1] Nisbah kepada Umayyah bin Abdu Syams, baninya Usman bin Affan dan Muawiyah. Jika merunut kepada nasab, akan nampak bahwa keduanya adalah saudara sepupu dua kali dari Usman.
                [2] Hingga Ali wafat, tidak disebutkan adanya qisas kepada para pembunuh Usman sebatas pengetahuan penulis-, tidak pula ada qisas masa Muawiyah berkuasa. Qisas ini tidak ditegakkan karena kuatnya posisi para pembunuh Usman, kekhawatiran akan timbulnya fitnah yang lebih besar jika dilakukan qisas dan sebab lainnya. Ditangguhkannya qisas ini menunjukkan kebijaksanaan Ali karena pandangannya jauh kedepan melihat masalah dengan segala rincian dan konsekuensinya, sedangkan Muawiyah ketika Ali berkuasa bersikeras menuntut qisas karena belum bisa melihat sudut pandang Ali ini. Muawiyah baru menyadari sudut pandang ini ketika ia sendiri berkuasa, dan ini menurut hemat penulis menjadi sebab tidak adanya qisas pada maka kekuasaannya, padahal ia berkuasa selama hampir 20 tahun, dari tahun 41 H hingga wafatnya tahun 60 H.
                [3] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, 5/73.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...