Minggu, 16 Juni 2019

Hasan al-Basri –rahimahullah- dan Sikapnya Terhadap Pemberontakan Kepada Hajjaj


Hasan mengatakan:
“Hajjaj (bin Yusuf ath-Thaqafi) adalah azab Allah, jangan menolak azab Allah dengan tangan-tangan kalian, tetapi kalian harus tunduk dan merendahkan (kepada Allah), karena Allah mengatakan:
وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri” (Al-Mu’minun: 76)”.
Ibnu Sa’d: 7/164 dengan sanad yang sahih dengan beberapa perbedaan redaksi; Ibnu Taimiyah: Minhaj as-Sunnah: 4/529.
Fawaid:
1. Hasan al-Basri adalah seorang tabi’in yang terkenal dengan ketokohannya dalam ilmu dan amal, dan ketulusannya memberikan nasehat kepada umat sesuai dengan dalil yang benar.
2. Cara yang benar menolak kezaliman menurut Hasan adalah tunduk, patuh, dan meminta kepada-Nya dengan merendah. Maka janganlah api dibalas dengan api, hendaklah ia dibalas dengan air yang memadamkan dan menyejukkan.
3. Sikap yang benar jika mendapati kezaliman penguasa adalah bersabar, sebagaimana disebut Hasan al-Basri.
4. Hajjaj bin Yusuf dikatakan oleh Rasulullah dengan mubir (penumpah darah) dalam hadist Asma di Sahih Muslim (6443), Rasulullah bersabda:
أَنَّ فِي ثَقِيفٍ كَذَّابًا وَمُبِيرًا
Sungguh di Tsaqif ada pendusta dan penumpah darah”.
فَأَمَّا الْكَذَّابُ فَرَأَيْنَاهُ وَأَمَّا الْمُبِيرُ فَلَا إِخَالُكَ إِلَّا إِيَّاهُ قَالَ فَقَامَ عَنْهَا وَلَمْ يُرَاجِعْهَا
Asma mengatakan: adapun pendusta itu sudah kita lihat (Mukhtar bin Abi Ubaid at-Tsaqafi), adapun penumpah darah aku menduganya adalah engkau, perawi mengatakan: Hajjaj kemudian bangkit meninggalkannya tanpa menyalahkan perkataannya.
Dikatakan bahwa Hajjaj membunuh 120.000 orang! Apatah pemimpin kita sampai batas ini hingga harus memberontak?.
5. Hal ini menunjukkan konsistennya aqidah Ahlu Sunnah, dari masa Rasulullah dan shahabatnya, tabi’in hingga sekarang, hal itu dikarenakan berpegangnya mereka pada dalil. Sebaliknya, pengekor bid’ah dan hawa nafsu akan diombang-ambingkan oleh syubuhat dan syahwat.
Wallahua’lam.
Bahan Bacaan
Sahih Muslim
Mawaqif Mu’aradhah fi ‘Ahdi Yazid bin Muawiyah karya Muhammad bin Abdul Hadi asy-Syaibani.

Pangkalan Bun, 14 Syawal 1440/16 Juni 2019 M. Tulisan awal ditulis di Ngangkruk, 14 Ramadhan 1440 H/18 Mei 2019. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...