Sabtu, 15 Juni 2019

Firasat Ibnu Abbas akan Kekhalifahan Muawiyah




Ibnu Abbas berdalil dengan al-Qur’an untuk menunjukkan kekhalifahan Muawiyah aberdasarkan firman Allah:
وَمَن قُتِلَ مَظۡلُومٗا فَقَدۡ جَعَلۡنَا لِوَلِيِّهِۦ سُلۡطَٰنٗا فَلَا يُسۡرِف فِّي ٱلۡقَتۡلِۖ إِنَّهُۥ كَانَ مَنصُورٗا ٣٣
Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan” (Al-Isra’: 33)
Ibnu Katsir رحمه الله  mengatakan:
Khabrul ummah (alim umat) ini, Ibnu Abbas mengambil keumuman ayat ini sebagai dalil bahwa Muawiyah bahwa ia akan berkuasa, karena ia adalah wali dari Usman bin Affan yang terbunuh secara zalim. Muawiyah  telah meminta kepada Ali bin Abi Thalib untuk menyerahkan pembunuh Usman kepadanya hingga ia menegakkan qisas karena Muawiyah adalah Umawi[1], sedangkan Ali bin Abi Thalib meminta tangguh hingga ia mampu menegakkan qisas[2]. Ali sendirii meminta kepada Muawiyah untuk menyerahkan Syam kepadanya, namun Muawiyah enggan hingga diserahkan para pembunuh Usman kepadanya sebagaimana Muawiyah dan penduduk Syam enggan untuk membaiat Ali , seiring berkepanjangannya perkara ini Muawiyah kemudian berkuasa sebagaimana istinbath Ibnu Abbas  dari ayat ini, dan ini sungguh perkara yang menakjubkan[3]”.




                [1] Nisbah kepada Umayyah bin Abdu Syams, baninya Usman bin Affan dan Muawiyah. Jika merunut kepada nasab, akan nampak bahwa keduanya adalah saudara sepupu dua kali dari Usman.
                [2] Hingga Ali wafat, tidak disebutkan adanya qisas kepada para pembunuh Usman sebatas pengetahuan penulis-, tidak pula ada qisas masa Muawiyah berkuasa. Qisas ini tidak ditegakkan karena kuatnya posisi para pembunuh Usman, kekhawatiran akan timbulnya fitnah yang lebih besar jika dilakukan qisas dan sebab lainnya. Ditangguhkannya qisas ini menunjukkan kebijaksanaan Ali karena pandangannya jauh kedepan melihat masalah dengan segala rincian dan konsekuensinya, sedangkan Muawiyah ketika Ali berkuasa bersikeras menuntut qisas karena belum bisa melihat sudut pandang Ali ini. Muawiyah baru menyadari sudut pandang ini ketika ia sendiri berkuasa, dan ini menurut hemat penulis menjadi sebab tidak adanya qisas pada maka kekuasaannya, padahal ia berkuasa selama hampir 20 tahun, dari tahun 41 H hingga wafatnya tahun 60 H.
                [3] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, 5/73.

Jumat, 14 Juni 2019

Inkonsistensi Syiah Rafidhah





Ibnu Taimiyah –rahimahullah- mengatakan[1]:
“...kemudian, satu hal yang menakjubkan bahwa Rafidhah mengingkari celaan terhadap Ali bin Abi Thalib –radhiyallahuanhu-, tetapi mereka mengkafirkan Abu Bakar, Umar, dan Usman –radhiyallahuanhum-, mengkafirkan mereka dan yang memberikan loyalitas kepada mereka. Muawiyah –radiyallahuanhu- dan pendukungnya tidaklah mereka mengkafirkan Ali, namun yang mengkafirkan Ali adalah Khawarij al-Mariquun[2], sedangkan Rafidhah lebih buruk dari Khawarij. Jika Khawarij mengingkari celaan, maka hal ini  bukti inkonsistensi mereka. Maka bagaimana jika Rafidhah yang mengingkari (celaan)?.
Tidak diragukan lagi bahwa mencela shahabat itu tidak dibolehkan: baik yang dicela itu Ali, Usman, atau selain keduanya. Barangsiapa yang mencela Abu Bakar, Umar, dan Usman maka dosanya lebih besar daripada orang yang mencela Ali”.
Wallahua’lam.

Pangkalan Bun, 12 Syawal 1440 H/14 Juni 2019 M.


                [1] Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 4/468.
                [2] Dari kata (مَرَقَ) yang bermakna keluar dengan cepat. Dalam hadist Khawarij dikatakan bahwa mereka:
يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
“Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya”.


Kamis, 06 Juni 2019

Hidayah itu Mahal, Sob!



Rasulullah di Makkah berusaha menyebarkan dakwah dengan memerintahkan hijrah ke Habasyah, lalu datang ke Thaif walau belum berhasil juga. Rasulullah kemudian menawarkan Islam diantara kabilah  yang datang ke Makkah dan mengatakan:
   من رجل يحملني إلى قومه فيمنعني حتى أبلغ رسالة ربي، فإن قريشا قد منعوني أن أبلغ رسالة ربي
"Siapakah orang yang sudi membawaku ke kaumnya dan melindungiku hingga aku (bisa) menyampaikan risalah rabbku, sungguh Qurays telah menghalangiku menyampaikannya"
(Abu Dawud, 3960 dan lainnya. Disahihkan Syaikh Albani)
Ketika Allah menghendaki tegaknya agama, bertemulah Nabi dengan 6 orang utusan Khazraj, salah satu diantara mereka mengatakan pada yang lain:
يا قوم، تعلمون والله إنه للنبي الذي توعدكم به يهود، فلا يسبقنكم إليه - وكان اليهود في بلادهم معهم ويستفتحون به عليهم - فأجابه إلى الإسلام.
Wahai kaumku, ketahuilah demi Allah bahwa (Muhammad) itu nabi, dimana Yahudi mengancam kalian dengannya - Yahudi tinggal bersama di negeri mereka dan meminta tolong untuk beroleh kemenangan atas mereka (Aus dan Khazraj) dengan nabi - akhirnya, mereka (orang Khazraj) tersebut menerima Islam.
(Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah 1/81-83; Ibnu Sa'd, Tabaqat 1/219).
-------------------------------------
Sobat, umat Anshar terpilih mendapatkan kemuliaan menjadi penolong Rasulullah, padahal kesempatan itu dilewatkan penduduk Thaif, bahkan dilewatkan orang Yahudi yang tahu akan kebenaran namun tidak mengikutinya
اللذين أتيناهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون آبنائهم
"Orang-orang yang kami berikan al-kitab mengenalinya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka".
Sobat, orang yang tahu kebenaran belum tentu menetapinya sob!, orang Yahudi tidak menerima kebenaran karena nabi yang turun ternyata bukan dari kaum mereka.
Namun, penghalang hidayah itu bukan hanya ini sob!, kadang kedudukan menjadi penghalang hidayah sebagaimana pemuka Qurays di Makkah. Kaddang pula ketakutannya atas kaumnya menjadi penghalang, sebagaimana yang terjadi pada Heraclius, kaisar Romawi.
Sob, ketiadaan atau sedikitnya penghalang ini yang barangkali menjadi sebab mudahnya hidayah itu turun bagi orang-orang awam kebanyakan, beda hal dengan pemuka yang takut dengan kedudukan, atau orang kaya yang takut dengan hartanya.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.
Wallahua'lam.
-----------------------
Disarikan dengan penambahan dari Mukhtasar Sirah Sahihah karya Sulaiman al-'Udah, hlm. 141-143.

Kamis, 16 Mei 2019

Beginilah Ahlu al-Bait Menghadapi Fitnah




Muhammad bin al-Hanafiyyah mengatakan kepada para pengikutnya yang menginginkan tumbangnya Daulah Umawiyah:
“Takutlah dengan fitnah!, tidaklah seseorang masuk ke dalamnya kecuali fitnah itu akan mendahuluinya. Ketahuilah, bahwa mereka (Daulah Umawiyah) memiliki waktu dan masanya, kalaupun bersatu semua yang ada di muka bumi untuk menumbangkan kekuasaan mereka, niscaya mereka tidak mampu melakukannya kecuali Allah yang mengijinkan hal itu terjadi. Apatah engkau mampu memindahkan gunung-gunung?!”
(Ibnu Abi Syaibah: 11/123; 15/80 dengan sanad yang hasan)
Pada kesempatan lain ia mengatakan:
“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencukupi diri sendirinya, menahan tangannya, menahan lisannya, dan duduk di rumahnya, ia mendapatkan pahala berdasarkan yang ia harapkan dan ia bersama yang ia cintai”.
(Ibnu Sa’d, Thabaqat al-Kubra: 5/71; Ibnu Abi Syaibah: 11/103)
Fawaid:
1. Seorang muslim mengimani wajibnya memberikan wala’ (loyalitas), menghormati, dan mencintai ahlu baitnya Rasulullah secara umum, terutama bagi yang mengikuti sunnah seperti Ibnu Abbas dan lainnya. Adapun yang menyimpang maka tidak boleh diikuti dan dijadikan teladan, siapapun dia dan setinggi apapun posisinya.
2. Kemuliaan seeorang bukan karena nasab, pangkat atau lainnya. Namun, karena mengikuti jalannya Rasulullah dan shahabatnya.
3. Al-Mulk (kekuasaan) adalah milik Allah dan dinisbatkan kepada Allah. Allah lah yang berkuasa mengangkat dan menurunkan kekuasaan dari yang dikehendaki-Nya.
Allah mengatakan:
تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Mulk: 1)
قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Ali Imran: 26)
4. Pentingnya menjauhkan diri dari fitnah, sebagaimana yang dicontohkan Ibnu al-Hanafiyyah dalam hal ini.
5. Hendaknya seorang muslim menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya terutama di Bulan Ramadhan.
6. Perubahan umat harus dimulai dari bawah (grassroot) dengan penerapan akidah yang kuat sebagaimana sudah dicontohkan Rasulullah dan bukan untuk dimulai dengan mencari kekuasaan. Karena itu Rasulullah enggan ketika ditawari kekuasaan oleh Qurays, karena itu pula Nabi Musa –alihissalam- tidak kembali ke Mesir seketika melewati Laut Merah dan ditenggelamkannya Fir’aun, padahal sangat memungkinkan sekali bagi Nabi Musa untuk kembali dan meraih kekuasaan. Maka inilah jalan yang asli, jika Anda saja ketika menginginkan barang tertentu niscaya mencari barang yang asli, lalu Anda hendak mencari yang tiruan dalam masalah agama?.
7. Kelak, Daulah Umawiyah tumbang ketika kekuasaan berada di tangan pemimpin yang kuat, yaitu Marwan bin Muhammad tahun 132 H.
Benarlah, ketika Allah mengatakan:
تِلۡكَ أُمَّةٞ قَدۡ خَلَتۡۖ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَلَكُم مَّا كَسَبۡتُمۡۖ وَلَا تُسۡ‍َٔلُونَ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٣٤
Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (Al-Baqarah: 134)
  
Wallahua’lam.
Bahan Bacaan
At-Tanbiihat as-Saniyyah ala al-Aqidah al-Wasithiyyah karya Abdul Aziz ar-Rasyid.
Mawaqif Mu’aradhah fi ‘Ahdi Yazid bin Muawiyah karya Muhammad bin Abdul Hadi asy-Syaibani.



Sabtu, 11 Mei 2019

Kisah dalam al-Qur'an



لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  
            Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman[1]. (Yusuf 111)
Ayat dalam surat Yusuf diatas memberi beberapa petunjuk yang agung bagi umat manusia, pertama : Kisah para nabi dengan kaumnya; bagaimana orang yang beriman diselamatkan dan celakanya orang yang kafir terdapat ibroh dan pelajaran bagi orang yang berakal[2], karena yang lebih terpenting dalam sejarah bukan hanya transmisi cerita dari satu pihak ke pihak yang lain akan tetapi makna yang terkandung dan pelajaran penting yang harus dicamkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-sehari. Ayat yang sejenis ini; yang berkaitan dengan perintah kepada manusia untuk menggunakan segala potensi yang ada pada dirinya untuk berpikir, menelaah dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekelilingnya sangat banyak  disebutkan dalam Al-Qur’an.
Kedua : Urgensi otentifikasi berita, dalam kalimat :
مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ
“Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat”
Mengenai hal ini al-Qurṭubȋ menyebutkan bahwa al-Qur’an ini bukanlah perkataan yang dibuat-buat yang bukan dari sisi Allah atau dalam kisah ini (Nabi Yusuf dan kaumnya, pen.) bukan pula kisah fiktif yang diada-adakan[3].   Ibrah yang bisa kita ambil hanyalah yang berasal dari kisah nyata dan bukan fiktif. Bagaimana kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang bersumber dari khayalan, dan kebohongan, padahal Islam mengajarkan kebenaran, kejujuran dan kebersihan hati.
Teladan yang kita ambil adalah kisah orang saleh yang mengedepankan kebenaran dan kejujuran, atau kisah orang zalim untuk dipahami dan dijauhi perbuatan kezalimannya. Ajaran Islam adalah nyata dan real serta bukan fiktif, tradisi Islam adalah tradisi yang mengedepankan kejujuran, keluhuran budi dan kebenaran. Bukan tradisi barat yang banyak berhutang ke Yunani dengan kisah fiktif atau semi fiktif seperti Troya dan Hercules. 
Ketiga : al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu, termasuk di dalamnya perkara hukum, akidah, akhlaq, perkara gaib, kisah umat terdahulu, kisah masa yang akan datang dari perkara hari kiamat atau perkara lainnya yang akan memberi faidah bagi semua manusia.
Keempat : al-Qur’an adalah kitab hidayah dan petunjuk bagi umat manusia yang mampu mengantarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, kisah dan sejarah termasuk salah satu metode yang bisa digunakan untuk memberi hidayah manusia menuju jalan yang lurus.
Wallahua'lam.



                [1] Kementerian Agama RI, Mushaf Aisyah: al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: al-Hilal, Tanpa Tahun), hlm. 248.
                [2] Ibnu Kaṡȋr, Tafsȋr al-Qur’an al-Aẓȋm Jilid VI. Taḥqȋq Ridwan Jāmi’ Ridwan, ( Kairo : Maktabah Aulād Syaikh Li at-Turāṡ, Cet. 1, 2009), hlm. 3035.
                [3] Muhammad bin Ahmad al-Anṣārȋ al-Qurṭubȋ, al-Jāmi’ Li Ahkām al-Qur’an Jilid V, (Kairo: Dār al-Hadiṡ, 2010 M), hlm. 250.

Sabtu, 04 Mei 2019

Hoaks dan Fitnah Terbunuhnya Usman



Hoaks menurut KBBI offline adalah berita bohong. Berita bohong ini membawa malapetaka di dunia dan akhirat bagi yang menyebarkan dan yang menjadi korban hoaks.
Usman sendiri menjadi khalifah sejak tahun 23-35 H sepeninggal Umar. Paruh pertama kekuasaan Usman adalah nikmat, pada paruh kedua kekuasaannya mulai muncul berita bohong yang menimbulkan keresahan dan kekacauan.
Kegoncangan itu terutama dipicu Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam untuk mengail di air keruh. Ia merekrut banyak orang untuk menimbulkan hoaks dan berita bohong berupa banyak tuduhan keji terhadap Usman. Tuduhan itu sendiri bentuknya bermacam-macam mulai dari keutamaan Usman yang salah dipahami semisal dibakarnya mushaf dan kemudian diganti mushaf Usman dengan kesepakatan shahabat, atau absennya Usman dari baiat Ridwan, padahal baiat itu terjadi untuk membela Usman. Adapula tuduhan yang sama sekali dusta semisal diberikannya seperlima rampasan perang penaklukan Afrika Utara kepada saudara tirinya, Abdullah bin Sa'd bin Abi Sarh. Adapula tuduhan yang berbau 'fanatisme buta' terhadap ahlu al-bait hanya karena sebagian gubernur berasal dari Bani Umayyah, kerabat Usman. Padahal fakta sejarah menunjukkan Bani Umayyah adalah para pemimpin Qurays di sisi Bani Hasyim karena mereka berada dalam satu ikatan, bani Abdu Manaf. Disisi lain jumlah gubernur dari kerabat Ali ketika ia berkuasa jauh lebih banyak dibanding Usman. Tapi, hoaks ini sudah kadung tersebar terutama di Mesir, Bashrah, dan Kufah, karena itu tak heran jika kelompok yang 'ngluruk' datang ke Madinah dari 3 daerah ini.
Seruan mereka satu, Usman harus lengser!. Seems familiar?. Bayangkan, bagaimana mereka berani menuntut manusia terbaik kala itu dan khalifah yang sah hanya karena hoaks, berita bohong yang simpang siur.
Apakah Usman menuruti tuntutan orang-orang munafik tadi?, tentu tidak, karena mertuanya dan manusia terbaik sejagad telah bersabda untuk tidak turun meski dituntut lengser olah orang-orang munafik. Ya, para pemberontak itu yang dikatakan munafik oleh nabi dan junjungan umat Islam, Muhammad shallahuaalaihiwasallam.
Namun, setelah mengepung rumah Usman selama sekitar 40 hari mereka masuk melalui loteng rumah dan membunuh Usman hingga darahnya menetes ke mushaf yang dibacanya, ia terbunuh ketika berpuasa, bersabar, dan mengharap janji Rasulullah bahwa ia akan masuk surga atas bala musibah yang menimpanya.
Kelak, pembunuhan Usman ini menjadi sebab fitnah yang pengaruhnya masih bisa dirasakan hingga masa Ibnu Taimiyah, sebagaimana disebutkannya sendiri. Penulis katakan, bahkan sampai sekarang masih terasa.
---------------------------------------
Fawaid:
1. Yahudi dan Nashara tidak akan rela dengan agama Islam hingga umat mengikuti agama mereka.
2. Jejak Ibnu Saba' tetap ada, sebagaimana nampak dalam kisah ini, kelompok Sabaiyah yang menuhankan Ali, dan juga Syi'ah.
3. Ibnu Saba' itu nyata dan bukan khayalan sebagaimana dikatakan Thaha Husain al-Masri - dedengkot dan murid orientalis--dan Quraish Shihab - meski kemudian sudah dibantah tulisan santri salah satu pondok Nahdliyyin di Jawa Timur-. Secara timbangan ilmu Hadist keberadaannya berdasar sanad yang bisa dijadikan hujjah.
Wallahua'lam.

Jumat, 26 April 2019

Anak Panah Pertama yang dilepaskan dalam Jihad fi Sabilillah


Ilustrasi memanah
gambar dari akhbarak.net

            Anak panah ini dilepaskan oleh shahabi yang mulia Sa'd bin Abi Waqqash dalam ekspedisi Ubaidah bin Harist bin Muthalib ke arah Rabigh[1], Ibnu Katsir dalam Fushul  menyebutnya dengan Tsaniyyah al-Marah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Syawal 2 H[2], kaum Muslimin berjumlah sekitar 60 atau 80 dari penunggang kuda Muhajirin. Tidak ada pertempuran dalam ekspedisi ini, meskipun Sa'd melepaskan anak panahnya ke musuh.
Ia mengatakan tentang hal tersebut:
إني لأول العرب رمى بسهم فى سبيل الله
Sungguh aku adalah orang Arab pertama yang melepaskan anak panah dalam jihad fi sabilillah[3]”.
Wallahua'lam.



                [1] Miqat penduduk Syam, Mesir, Turki dan yang melalui jalur tersebut, tempat ini terletak sekitar 183 km., sebelumnya yang dijadikan miqat adalah Juhfah namun lenyap, sehingga kini ihram dimulai dari Rabigh. Musa bin Rasyid al-‘Azimi, al-Lu’lu’ wa al-Maknun fi Sirah an-Nabi al-Ma’mun, (Riyadh: Dar Suma’i, Cet. 1, 1434 H), 2/290.
                [2] Menurut al-Azimi. Adapun Ibnu Katsir menyebutnya dalam bulan Rabi’ al-Awwal 2 H. Lihat Ibnu Katsir, al-Fushul fi Sirah ar-Rasul, (Kairo: Dar Ibnu Rajab, Cet. 2, 1434 H), hlm. 41
                [3] Bukhari (3728); Muslim (2966).

Jumat, 12 April 2019

Sebab dan Solusi Kemunduran Umat Islam*



Oasis di Ahsa Saudi Arabia
sumber: gulfnews.com


Oleh: Abdurrahman bin Yahya al-Muallimi al-Yamani[1]

Orang cerdik pandai tentang Islam yang ikhlas telah banyak menuturkan bahwa kelemahan, kemerosotan, kehinaan dan jenis kemunduran lain yang menimpa umat tidak lain hal itu terjadi karena jauhnya mereka dari hakekat Islam.
Aku memandang bahwa hal itu kembali kepada tiga hal:
1) Kerancuan antara yang menjadi bagian agama dengan yang tidak[2].
2) Lemahnya keyakinan dengan apa yang menjadi bagian dari agama.
3) Tidak mengamalkan aturan-aturan agama.
Aku memandang bahwa mengetahui adab kenabian yang sahih dalam ibadah, muamalah, tinggal menetap, bepergian, berkumpul bersama, ketika sendirian, bergerak, diam, terjaga, tidur, makan, minum, berbicara, diam, dan hal lainnya yang dilakukan oleh manusia dengan usaha mengamalkannya sebatas yang ia mampu adalah satu-satunya obat dari penyakit tersebut.
Banyak adab tersebut yang mudah bagi jiwa (untuk menjalankannya), jika manusia mengamalkannya sebatas yang mudah ia lakukan dan meninggalkan yang menyelisihinya niscaya tidak lama kemudian –In sya Allah- ia akan meminta tambah. Barangkali tidak lama kemudian ia akan menjadi teladan bagi yang lain dalam hal itu dengan mengikuti petunjuk yang lurus tersebut dan bertingkah laku dengan akhlaq yang agung tersebut –meski sampai batas tertentu- (yang nantinya) akan menyinari hati, melapangkan dada, menenangkan jiwa, memperdalam keyakinan, dan memperbaiki amalnya. Jika semakin banyak yang melakukannya, tidak lama kemudian penyakit tersebut In sya Allah akan hilang.
Selesai nukilan.
Wallahua’lam.


                * Judul ini dari penulis.
                [1] Fadhlullah al-Jilani, Fadhlullah ash-Shamad fi Syarh al-Adab al-Mufrad, mukaddimah oleh Abdurrahman bin Yahya al-Muallimi, (Kairo: Maktabah as-Salafiyah, 1378 H), hlm. 17.
                [2] Maksudnya kerancuan bagi sebagian orang antara syariat dengan bid’ah.

Kamis, 04 April 2019

Barbar


peta dari nationonline.org

Barbar bisa dikatakan bangsa yang lebih awal tinggal di wilayah Maghrib[1] sebelum kedatangan Umat Islam. Terdapat perbedaan apakah mereka keturunan Arab atau tidak. Istilah Barbar sendiri bukan berasal dari mereka sendiri, namun sebutan orang Romawi terhadap orang yang tidak berbahasa Latin dan Yunani, sedangkan mereka menyebut diri mereka sendiri dengan Amazigh, yang bermakna musafir atau petualang yang bebas[2].
Bagi penulis, penggunaan istilah ini menjadi bukti penulisan sejarah yang Eropasentris, karena jika pendapat ini yang diambil dan melihat fakta yang sejarah sekarang yang menunjukkan Barbar sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut istilah bangsa yang bengis, kasar, dan jahat. Apa Romawi tidak kalah bengis dan jahat?.  
Sisi kedua adanya kecenderungan unsur Islamophobia, karena setelah pembukaan wilayah Islam mereka berbondong-bondong masuk Islam, ditambah lagi kebijakan asimilasi yang diterapkan para gubernur Afrika Utara dari Uqbah bin Nafi’, Abu al-Muhajir Dinar mawla Maslamah bin Mukhallad, Zuhair bin Qais al-Balwi, dan Hassan bin Nu’man al-Ghassani. Karena itu muncul tokoh besar mereka seperti Tariq bin Ziyad, yang namanya diabadikan sebagai nama selat antara Afrika dan Iberia yaitu Gibraltar, dan nama negara sangat kecil yang tunduk ke Inggris, yaitu Gibraltar juga. Nama ini muncul dari hasil penyesuaian pelafalan nama Thariq bin Ziyad ke bahasa mereka. Kelak muncul dinasti seperti Muwahhidun/Mohads yang notabene orang Amazigh/Barbar. Kelak muncul tokoh seperti Ibnu Ajurrum, penulis matn beken Nahwu, Ajurrumiyah yang notabene ia berasal dari kabilah Shanhaj yang merupakan bagian dari Amazigh/Barbar.
Wallahua’lam. 

Ngangkruk, 29 Rajab 1440 H/04 April 2019 M pkl. 09.47 WIB.


                [1] Maghrib dari kalimat gharb yang bermakna arah barat, karena posisinya berada di bagian barat dari wilayah umat Islam, dimana pusatnya berada di Makkah. Ubayyah  menyebut bahwa ahli geografi biasa membagi Maghrib menjadi  tiga bagian: 1) Maghrib Dekat: mnecakup Libya,Tunis, dan sebagian Aljazair. 2) Maghrib Tengah: mencakup bagian Tengah Aljazair. 3) Maghrib Jauh: mencakup Kerajaan Maroko dan Mauritania. Batas antara Tengah dan Jauh adalah sungai Muluwiyah. Thaha Abd al-Maqsud Abd al-Hamid Ubayyah, Jihad al-Muslimin wa Futuhatuhum fi Ashr al-Khilafah al-Umawiyah, (Kairo: Dar al-Imam al-Barbahari, Cet. 1, 1433 H), hlm. 65-66.
                [2] Lihat Nahlah Syihab Ahmad, al-Maghrib al-Arabi fi Ahd ‘Uqbah bin Nafi’, (Irbid: Dar al-Kitab ath-Thaqafi, Cet. 1, 1433 H), hlm. 31-33.

Selasa, 02 April 2019

Kekuatan Hafalan az-Zuhri




Muhammad bin Syihab az-Zuhri (124 H) adalah salah satu muhaddist terbesar di masanya, ia dianggap tsiqat oleh pemuka jarh wa ta’dil. Para ulama memuji kekuatan pemahaman dan keluasan ilmunya. Ia orang pertama yang menggunakan metode mengumpulkan sanad hadist yang berlainan untuk menyempurnakan konteks hadist dan menyambung hadist tanpa terpotong oleh sanad. Ibnu Syihab adalah orang tekun dalam sejarah Islam, hadist, dan fiqh. Ia menulis berdasar apa yang ia dengar dan ia kumpulkan dari masyayikhnya. Abu Zinad mengatakan tentangnya:“Kami mengelilingi ulama bersama Zuhri dan ia membawa lembaran dan buku untuk mencatat yang ia dengar”.
Tentang hafalannya, sungguh seperti keajaiban!. Al-Fasawi[1] menceritakan bahwa seorang khalifah meminta kepada Zuhri untuk mendiktekan hadist kepada anaknya, khalifah tersebut mendatangkan seorang penulis hingga Zuhri selesai mendiktekan 400 hadist. Beberapa masa kemudian khalifah tersebut mengatakan kepada Zuhri: Catatan tersebut hilang!. Maka ia memanggil penulis hingga Zuhri mendiktekan lagi 400 hadist tersebut. Mereka kemudian membandingkan catatan pertama dengan yang kedua dan tidak ada perbedaan walau satu huruf pun!.
Wallahua’lam.

Ngangkruk, Kamis 28 Rajab 1440 H/2 April 2019 pkl. 22.06 WIB
   



                [1] Al-Fasawi, al-Ma’rifah wa at-Tarikh, 1/640 sebagaimana dinukil al-Muallimi dalam Ilmu ar-Rijal wa Ahamiyyatuhu, tahqiq Ali Hasan al-Halabi, (Riyadh: Dar ar-Rayah, Cet. 1, 1417 H), hlm. 25.

Al-Mizzi, Ibnu Taimiyah dan Penjara Ibnu Hajar mengisahkan dalam biografi al-Mizzi bahwa ia pernah mengalami cobaan dengan dipenjara, perist...